Message on The Bottle


Author : Pinky Girl

Main Cast : Park Jiyeon, Choi Minho

Support Cast : Find ur self..;)

Genre : Romance, Life

Rating : T

Type : One Shoot

Jiyeon POV

Penat aku dengan semua…Apa yang aku lihat, aku dengar dan aku rasakan…

Kenapa semuanya hanya membuatku sakit saja…

Apakah ini hidup yang aku harapkan?

Bukan, bukan seperti ini

Di saat aku ingin tertawa di tengah orang-orang di luar sana

Aku hanya bisa terkurung dalam kesepian

Di saat aku ingin merasakan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingku

Aku hanya bisa menangis dalam kesendirian

Tidak ada tempat mengadu, tempat untuk bersandar atau bahkan sekedar mencari hiburan

Di mana semua orang sebenarnya???

Aku menulis puisi yang ke sekian kalinya dalam diaryku. Aku mungkin sekarang ini bisa di bilang seperti burung yang hidup di dalam sangkar emas. Aku memiliki semuanya, aku tinggal di rumah yang megah, aku bisa membeli apapun yang aku mau, tapi aku tidak memiliki cinta, aku tidak memiliki siapapun di sampingku, aku tidak bahagiaaaa. Aku ingin seperti orang-orang di luar sana, walopun mereka hidup sederhana tapi mereka selalu bersama dalam kehangatan, mereka memiliki cinta, mereka saling menyayangi dan menjaga, sedangkan aku?? Ayah dan Ibuku tinggal di Luar Negeri untuk waktu yang sangat lama, aku anak tunggal jadi aku di rumah hanya tinggal dengan beberapa orang pelayan. Aku bukan butuh pelayan, aku butuh sesorang yang bisa selalu ada untuk menemani aku, aku butuh sosok Ayah dan Ibu yang selalu ada untukku, menjagaku, tapi kenyataanya aku tidak pernah merasakan semua itu.

“Agashi, anda mau kemana sore-sore begini?” tanya salah seorang pelayanku saat aku akan pergi ke luar.

“Aku ingin melihat matahari terbenam, jangan menungguku pulang, nanti kalo aku sudah ingin pulang, aku pasti akan langsung pulang”

“Ah, ne agashi, hati-hati”.

Aku mengendarai Jaguard merahku menuju pantai yang kira-kira jaraknya 1 Km meter dari rumahku. Pantai yang sangat indah, tempat yang selalu aku kunjungi setiap kali aku merasa bosan dan penat. Aku duduk di tepi pantai mengarah ke arah laut, menunggu matahari yang akan segera terbenam dalam beberapa menit lagi. Sambil menggenggam sebuah botol, aku tetap setia menunggu matahari sampai benar-benar terbenam. Yeppeota…

Entah kenapa setiap kali aku melihat matahari terbenam, aku merasakan diriku yang ikut terbenam dengan duniaku yang terasa sepi. Kapankah Tuhan akan mengirimkan seseorang untuk mengisi hidupku?? Aku ingin teriak, aku ingin lepas dari semua ini.

Aku melihat jam tanganku, tenyata sudah pukul 7 malam, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Aku menyimpan botolku di tepi pantai, entahlah aku hanya ingin meninggalkannya di sana, jika ada yang membacanya, aku harap dia bukan orang yang punya nasib sepertiku.

“Agashi, kau sudah pulang?”

“Ya, tolong siapkan makan malam dan antarkan ke kamarku setelah aku selesai mandi nanti”

“Ne agashi”

Ahh..segar sekali rasanya bisa sedikit memanjakan diriku dengan mandi seperti ini. Selesai mandi, aku mebuka laptopku, aku buak e-mail, tapi tidak ada e-mail juga dari Ayah dan Ibu, biasanya mereka selalu menyempatkan mengirimku e-mail di sela kesibukanmereka bekerja, tapi sudah beberapa minggu ini mereka tidak pernah lagi mengirimku e-mail, dan jangankan e-mail, menelfonku saja sudah tidak pernah. Hah,entahlah, apakah aku ini masih di anggap anak oleh mereka???

***

Sudah satu minggu ini aku sering ke pantai, menikmati indahnya matahari terbenam, dan tidak lupa aku menyimpan botolku yang berisi pesan tentang keluh kesahku. Sempat terfikir olehku, Ya Tuhan jika ada seseorang yang menemukan ini, jika dia seorang namja, maka jadikanlah dia sebagai jodohku, tapi jika dia seorang yeoja, jadikanlah dia sahabatku.

Minho POV

Aku benar-benar mencintai duniaku sekarang, photographer. Saat, sahabat kecilku Onew, mewariskan kamera Canon nya padaku, aku mulai mencintai apa yang dia cintai. Yah, sebelum Onew meninggal beberapa tahun yang lalu, dia mewariskan kamera ini padaku dan berpesan agar aku bisa meneruskan cita-citanya untuk bisa menjadi seorang photographer yang seutuhnya. Awalnya aku tidak mengerti bagaimana cara foto yang bagus, tapi entah kenapa aku langsung bisa mengerti, mungkin karna bawaan dari kamera itu yang sudah lama di pegang Onew, jadi seolah menuntunku untuk bisa menggunakannya dengan baik dan menghasilkan gambar yang bagus. Hari ini lokasi yang aku ambil untuk foto adalah pantai yang berada tidak jauh dari rumahku. Pantai itu sangat indah tapi anehnya selalu sepi, mungkin karna tempatnya yang memang jauh dari rumah penduduk dan memang terpencil. Di daerah itu hanya berdiri beberapa rumah saja, makannya mungkin yang suka datang ke pantai itu, hanya orang-orang yang masih tinggal dekat dengan pantai itu, termasuk aku salah satunya.

Saat aku akan pulang, aku melihat ada benda yang tergeletak di tepi pantai, aku menghampirinya dan…

“Botol?” gumamku sambil mengambil botol berwarna biru itu dan sepertinya ada sebuah kertas di dalamnya.

“Milik siapa ini?? Apakah pemiliknya baru dari sini tadi?? Apakah sengaja di tinggalkan , atau memang tertinggal??” aku berbicara pada diriku sendiri.

Akhirnya aku berfikir untuk mengambil botol itu, dan berniat kembali ke sini besok, mungkin pemiliknya akan kembali ke sini.

Ke esokan harinya,,,

Aku menemukan satu botol lagi, masih dengan warna yang sama dan di dalamnya ada lagi sebuah kertas.

“Sebenarnya milik siapa ini?? Kenapa bisa ada botol seperti ini lagi??” tanyaku dalam hati.

Akhirnya sampai satu minggu ini aku sering menemukan botol yang sama di tempat yang sama pula, hingga membuatku penasaran ingin membuka isi dari botol itu, tapi ku urungkan niatku itu. Dan aku berniat, besok aku akan ke sana lagi, dari pagi hari sampai malam, aku ingin melihat sebenarnya siapa pemilik botol ini?? Aku akan menunggu sampai orang itu datang, apakah dia seorang yeoja atau namja??

Ke esokan harinya, pukul 17.20 petang di pantai…

Aku sengaja menunggu di tempat yang lumayan jauh dari tempat biasa aku menemukan botol itu, tempatku agak tersembunyi agar orang itu nantinya tidak melihat keberadaanku. Dan tidak lama kemudian, ada seseorang yang datang dan duduk di tempat itu.

“Seorang yeoja??” gumamku.

Aku terus memperhatikan yeoja itu, dia seperti sangat menikmati matahari yang mulai terbenam, aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karna agak gelap, tapi wajahnya yang terkena sinar petang membuatnya terlihat sangat cantik, dan dengan kilat aku mengambil fotonya, aku tidak ingin membuang moment yang sangat langka itu, aku bisa mengambil fotonya dengan wajah yang terkena sinar petang. Setengah jam dia berada di sana, lalu dia beranjak dan menyimpan sebuah benda di sana. Sebuah botol.

“Jadi…dia benar-benar pemilik botol itu?”

Aku sengaja tdiak langsung menghampirinya, aku menunggu dia pergi, dan tidak lama kemudian aku menghampiri ke tempat itu, dan aku mengambil botolnya, dan aku berfikir, jadi selama ini dia memang sengaja meninggalkan botol ini di sini.

Aku kembali ke rumahku, aku masuk ke kamar dan mengambil semua botol-botol yang aku temukan di pantai. Aku sengaja menyimpannya dalam urutan sesuai dengan hari aku menemukannya. Karna aku semakin penasaran dengan isinya, akhirnya aku membuka botol-botol itu.

Aku membuka botol pertama, dan membuka kertasnya…

Message 1

Penat aku dengan semua…

Apa yang aku lihat, aku dengar dan aku rasakan…

Kenapa semuanya hanya membuatku sakit saja…

Apakah ini hidup yang aku harapkan?

Bukan, bukan seperti ini

Di saat aku ingin tertawa di tengah orang2 di luar sana

Aku hanya bisa terkurung dalam kesepian

Di saat aku ingin merasakan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingku

Aku hanya bisa menangis dalam kesendirian

Tidak ada tempat mengadu, tempat untuk bersandar atau bahkan sekedar mencari hiburan

Di mana semua orang sebenarnya???

Message 2

“Aku sedih, marah sekaligus benci pada kedua orang tuaku, kenapa mereka seolah tidak mengganggapku ada?? Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka di luar negeri, mereka sibuk dengan bisnis-bisnis mereka, meeting ini, meeting itu lah, dan setiap kali aku protes, mereka selalu menjawab semua itu demi aku. Bukan, aku tidak membutuhkan materi, aku hanya membutuhkan kalian, Ayah, Ibu, aku membutuhkan kalian di sampingku, aku membutuhkan kasih sayang kalian. Ku mohon mengertilah keinginanku.”

Message 3

“Aku bosan dengan semuanya, kenapa tidak ada perubahan juag dalam hidupku?? Semuanya masih terasa hambar, masih sama seperti biasanya”.

Message 4

“Hei..kau yang menemukan botol ini?? Ini sudah yang ke sekian kalinya aku meninggalkan botol ini di sini, apakah kau menemukan setiap botol yang aku tinggalkan di sini?? Kau laki-laki atau perempuan??? Siapapun kau, aku harap kau tidak memiliki nasib yang sama sepertiku. Kau pasti sangat kasihan kan padaku, dengan nasibku yang seperti ini?? Jangan, aku mohon jangan kasihani aku, tapi jadilah teman baik untukku,eoh??”

Message 5

“Hei,,.,kau yang membaca pesan ini, pasti mengganggapku sudah gila, aku bicara sendiri pada kertas ini, lalu memasukkannya ke dalam sebuah botol, lalu aku meninggalkannya di tepi pantai. Yah, aku tau, kalai pasti mengganggap hal ini sangat tidak wajar, tapi aku melakukan ini karna aku benarbenar merasa kesepian, aku tidak punya seorang teman, jadi hanya ini yang bisa aku lakukan, aku menulis semua keluh kesahku pada sebuah kertas dan memasukkannya ke dalam botol, meninggalkannya di tepi pantai, semata-mata hanya berharap ada seseorang yang akan menemukannya dan bisa menjadi temanku”

Message 6

“Hari ini ada satu kejadian yang membuatku tersadar, bahwa sebenarnya aku tidak sendirian, salah satu pelayanku, dia melihatku menangis di kamarku, dia menghampiriku dan mengucapkan sesuatu yang benarbenar membuatku kagum, dia hanya seorang pelayan, kehidupannya jauh dari kesempurnaan, tapi sepertinya dia tidak pernah mengeluh. Melainkan dia selalu bersyukur atas hidupnya yang sekarang, dia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus Perguruan Tinggi. Dan aku benar-benar tersadar, ternyata selama ini aku tidak pernah bersyukur atas kehidupanku, aku memiliki segalanya, tapi aku tidak pernah melihat mereka yang ada di bawahku dan tidak menolong mereka. Sekarang aku sadar, walopun aku kurang didikan dari orang tuaku, tapi aku tetap harus bisa hidup mandiri, aku ingin belajar untuk menjadi dewasa dan lebih memandang orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama mereka-mereka yang selama ini telah setia melayaniku dan keluargaku. Yah, sepertinya aku mulai menemukan dunia baruku sekarang….:) “

Message 7

“Dua hari lagi adalah hari ulang tahunku, apakah hari itu akan menajdi hari yang special untukku?? Karna sudah beberapa tahun ini, ulang taunku terasa hambar, karna orang tuaku hanya memberiku ucapan selamat lewat kartu dan mereka memberiku kado. Ayah, Ibu aku tidak membutuhkan ucapan lewat kartu, dan aku juga tidak berharap kalian memberiku kado yang istimewa, bagiku, kalian bisa ada di sampingku terus, itu adalah sebuah kado istimewa. Jadi aku mohon, ulang tahunku kali ini, berikanlah aku kebahagiaan yang seutuhnya”

————————————————-

Aku merapikan kembali boto-botol itu, memasukkan lagi satu per satu kertasnya ke dalam botol. Dan aku berfikir, ternyata di balik kecantikan dari yeoja itu, tersimpan beban yang sangat berat, kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, membuat dia merasa sangat kesepian dan merasa sendiri. Aku jadi penasaran ingin melihat wajahnya dari dekat, dan aku ingin mengenalnya. Aku melihat hasil foto yeoja itu yang aku ambil tadi secara diam-diam, aku memperhatiakn dengan cermat foto itu, Yeppeota…Aku yakin dia memiliki hati yang cantik seperti wajahnya.

Keesokan harinya aku berniat kembali ke sana, berharap bisa bertemu dengan yeoja itu lagi. Dan sekarang aku tau jam berapa dia selalu datang kepantai itu, sore hari menjelang petang. Aku sudah menunggunya 1 jam di tempat persembunyianku, dan akhirnya dia datang juga, seperti biasa dia menatap matahari terbenam, dan aku langsung mengambil fotonya lagi, aku mengambil banyak gambarnya dalam setiap posenya dia bergerak. Dan hanya setengah jam dia duduk di sana, dan beranjak lalu seperti biasa menyimpan botolnya lagi di sana. Setelah dia pergi, aku mengambil botol itu, aku membukanya di rumah.

Message 8

“Hei..kau, besok adalah hari ulang taunku, orang tuaku akan merayakannya dengan mengundang teman-temannya, aku berharap sekali kau dating besok ke ulang taunku, walopun aku tidak tau siapa kau, apa kau yeoja atau namja, tapi aku benar-benar berharap kau datang. Aku akan senang sekali jika kau mau datang, eoh?? Di balik kertas ini aku tuliskan alamat tempat nanti aku merayakan ulang tahunku, datanglah dan kau akan menjadi tamu special untukku…^^ “

Aku tersenyum membacanya, dia menambahkan emoticon tersenyum, lucu sekali. Aku jadi membayangkan dia yang tersenyum seperti itu. Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya.

Keesokan harinay aku menyiapkan sebuah kado kecil untuk yeoja itu, dan aku memilih baju yang lumayan bagus untuk ku pakai ke acara ulang taunnya nanti malam.

Pukul 7 malam…

Aku mengendarai motorku, mendatangi alamat yang di berikan yeoja itu di balik kertasnya. Dan aku tiba di sebuah hotel mewah, seperti hotel berbintang. Banyak mobil-mobil mewah parkir di sana, orang-orang yang turun dari mobilnya pun mengenakan gaun-gaun dan jas-jas yang sangat mewah. Aku melihat diirku sendiri, aku hanya memakai motor butut (?), memakai kemeja kotak-kotak yang hampir pudar, dan membawa kotak kecil sebagai hadiah?? Sempat terfikir olehku untuk mengurungkan niatku datang ke ulang taunnya, tapi karna di kertas itu yeoja itu sangat berharap aku, ah maksudku orang yang menemukan botolnya bisa datang ke ulang taunnya hari ini, jadi dengan mengumpulkan semua keberanianku, aku mulai melangkahkan kakiku perlahan untuk masuk ke dalam hotel, tapi aku masuk lewat bagian samping. Dan aku melihat yeoja itu ada di sana, mengenakan dress yang sangat indah, dengan tubuhnya yang tinggi dan semampai, membuat dia sangat cantik malam itu. Akhirnya aku bisa melihat wajahnya dari depan, tapi aku melihat dia tidak bahagia, tidak ada senyuman dari wajahnya dan dia menoleh ke sana kemari, seperti mencari seseorang, apakah dia sedang menungguku?? Seseorang yang telah menemukan setiap pesannya di dalam botol?? Apakah dia benar-benar berharap aku datang?? AKu benar-benar bingung apa ayng harsu aku lakukan saat itu, dan sampai akhirnya aku melihat sosok yang aku kenal yang membuatku kaget.

“Bukankah mereka??? Tuan dan Nyonya Park?? Kenapa mereka ada di samping yeoja itu?? Apakah mereka tamu dari yeoja itu? Atauuuu..”

Tiba2 ada seseorang yang menarik tanganku dan membekam mulutku.

“Eomma???” tanyaku kaget karna ternyata yang menarikku adalah Ibuku.

“Kau sedang apa di sini??” tanyanya dengan bisik-bisik.

“Eomma sendiri sedang apa di sini??” aku balik bertanya heran.

“Kau ini, hari ini adalah ulang taun Nona Jiyeon, tentu saja eomma ada di sini”

“Mwo?? Nona Jiyeon?? Jadiii, yang ulang taun itu Nona Jieyon???”

“Yah, wae??”

“Ah..anhi, aku hanya bertanya saja”

“Lalu kenapa kau ada di sini??”

“Ah..ehmm..aku sedang mencari temanku yang berulang taun juga, aku kira di sini tempatnya karna tadi aku lihat di sini seperti ada pesta ulang taun, tapi ternyata aku salah, hahha…” ucapku agak gelagapan dan memaksakan senyumku yang terasa hambar (?)

“Baiklah, bu. Kalo begitu aku pergi dulu yah”

“Eh..Minho-ah, kau mau ke mana??”

Aku pergi ke pantai, aku merenung di sana. Ternyata, yeoja itu adalah putri dari Tuan dan Nyonya Park, majikan dari Ibuku sendiri?? Fiuh…hal yang sangat tidak mungkin untuk aku bisa mendekatinya, atau hanya sekedar menjadi temannya, karna bagaimana mungkin Nyonya dan Tuan Park mau menerimaku sebagai teman putrid tersayangnya itu?? Aku hanya anak dari salah seorang pelayan mereka. Aku benar-benar tidak ingin berharap banyak.

***

Walopun aku sudah tau kalo yeoja itu adalah Nona Jiyeon, anak majikan Ibuku, tapi aku tetap ingin pergi ke pantai itu lagi, melihatnya dari jauh, apakah dia masih meninggalkan pesan-pesan di dalam botolnya lagi? Dan setelah menungu selama 2 jam, akhirnya dia datang, tapi dia datang tdiak di hari petang, tapi agak larut. Terlihat sekali wajahnya sangat sedih, entah kenapa saat itu aku ingin sekali menghampirinya, menyapanya dan menghiburnya, tapi itu tidak mungkin, sangat tidak mungkin. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh, sampai akhirnya dia beranjak dan meninggalkan botolnya lagi di sana. Aku mengambil botol itu dan membuka kertas di dalamnya.

Message 9

“Aku kecewa dan sedih, karna kau tidak datang ke acara ulang tahunku, padahal aku sangat berharap kau datang. Kenapa kau tidak datang??? Apa kau tidak menerima pesanku??..T_____________T

Aku sedih, membaca pesannya dengan emoticon sedihnya, aku seperti merasakan kesedihannya sekarang ini. Dan entah kenapa, aku seolah sudah merasa dekat dengannya, aku merasa nyaman dengan semua pesan2 nya di dalam botol itu sampai akhirnya terlintas dalam fikiranku, untuk membalas pesan-pesannya itu untuk bisa menghiburnya.”

To : Miss Message on The BottleHai…senang berkenalan denganmu, walopun aku tidak tau siapa namamu, tapi aku senang bisa menemukan botol-botolmu. Aku seorang namja, aku membaca semua pesan-pesanmu di dalam botol itu, dan yang terakhir aku juga membaca pesanmu yang mengundangku untuk datang ke ulang taunmu kemarin. Tapi maaf karna aku tidak bisa datang ke sana, karna kemarin mendadak aku ada keperluan yang tidak bisa aku tinggalkan, tapi aku ucapkan Saengil Chukka hamnida..Wish u all The Best…;)

Dan, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, mungkin apa yang dulu pernah pelayanmu bilang padamu, adalah hal yang benar, bahwa sebenarnya kau tidak sendirian, masih banyak orang2 di sekelilingmu yang menyayangimu, hanya saja kau tidak menyadarinya. Dan jangan pernah marah pada orang tuamu karna mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga mereka seperti megabaikanmu. Benar apa kata mereka, mungkin mereka melakukan semua itu demi kau, karna setiap orang tua pasti selalu ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya. Dan percayalah kalo orang tuamu itu pasti sangat menyayangimu, hanya saja cara mereka yang kadang salah mengungkapkannya padamu. Karna di dunia ini tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Tetap jalani hidupmu, jangan pernah kesepian lagi, karna sekarang aku juga akan selalu ada untukmu walopun hanya bisa menghiburmu lewat pesan-pesan dalam sebuah botol. Fighting….^^

Keesokan harinya…

1 jam sebelum dia datang ke pantai itu, aku menaruh botolku yang berisi pesanku di tempat biasa dia menyimpan botolnya. Dan aku memperhatikannya di tempat persembunyianku. Dia datang, dan dia kaget melihat botolku, mungkin dia kira itu botolnya yang kemarin, tapi sepertinya dia tau itu bukan botolnya dan akhirnya dia membuka botolku dan membaca pesanku.

Beberapa detik kemudian dia memasang senyuman di wajahnya dan melirik ke sekelilingnya, mungkin dia mencari siapa pemilik botol itu, setelah setengah jam dia berkeliling di pantai itu, akhirnya dia pulang. Aku sebenarnya tidak tega melihat dia berlari-lari mencoba mencariku, tapi aku juga belum siap menemuinya saat itu, bagaimana kalo dia kecewa saat tau bahwa aku ini hanyalah anak dari salah seorang pelayannya??

Keesokan harinya, aku kembali ke pantai itu. Diam di tempat persembunyianku, dan setengah jam kemudian Nona Jiyeon datang membawa botolnya, setelah selesai melihat matahari terbenam, akhirnya dia beranjak dan menyimpan botolnya di tempat biasa. Setelah dia pergi, aku langsung menghampiri ke tempat dia menaruh botolnya. Aku megambilnya dan membuka isinya, tapi saat ku buka, kertas itu kosong,dan…

“I catch you….” Ucap seseorang dari belakangku.

Aku terkejut saat berbalik dan melihat ternyata itu adalah Nona Jiyeon??

“Ternyata selama ini yang mengambil botol-botolku adalah kau?” tanyanya dengan tatapan agak sinis.

“Ah..anhi, aku..akuuu..hanyaa…”

“Diamlah, aku tau itu kau. Kau yang selama ini membaca setiap pesan-pesanku di dalam botol ini” ucapnya sambil menempelkan ujung telunjuknya di bibirku.

Aku hanya bisa terdiam dan entah kenapa perasaanku saat itu benar-benar tidak bisa ku kontrol. Dan tiba-tiba dia memelukku.

Deg..deg….deg…

“Astaga perasaan apa ini?? Kenapa aku begitu gugup sekarang?? Jangan sampai dia merasakan degup jantungku yang begitu kencang saat ini” gumamku dalam hati.

“Maafkan aku, Nona Jiyeon” ucapku sambil melepaskan pelukannya.

“Mwo?? Kau memanggilku Nona Jiyeon?? Bagaimana kau tau namaku? Apa kau sudah mengenalku sebelumnya??”

“Nona, apa kau masih ingat kau pernah menulis dalam pesanmu kalo kau sangat kagum pada salah seorang pelayanmu yang hidup sederhana tapi tidak pernah mengeluh??”

“Ya aku ingat, wae??”

“Pelayan yang Nona maksud itu, adalah Ibuku” ucapku melemah.

“Mwo??? Anhia,,itu tidak mungkin, bagaimana kau tau kalo pelayan yang aku maskud itu adalah Ibumu??”

“Nona, sebenarnya saat kau ulang taun, aku datang ke sana, bahkan aku hampir saja menemuimu, tapi saat aku akan masuk, Ibuku menarikku dan bilang kalo yang ulang taun itu adalah Nona, jadi aku mengurungkan niatku untuk menemui Nona. Dan sesampai di rumah saat itu, aku menanyakan pada Ibu, apakah Ibu pernah mengucapkan sesuatu pada Nona yang bisa membuat Nona semangat lagi dan merasa tidak sendirian lagi, dan Ibuku menjawab Iya.”

“Anhi..ini benar-benar tidak mungkin. Lalu kenapa kau tidak jadi datang ke ulang taunku??”

“Kenapa?? Karna aku tidak ingin merusak acara ulang taun Nona saat itu, aku tidak ingin orang tua Nona melihatku di sana”
“Memangnya kenapa kalo orangtuaku melihatmu?”

“Nona, aku ini hanyalah seorang anak dari pelayan di keluarga Nona, jadi mana mungkin orang tua Nona menerimaku saat itu dengan pakaian yang sangta lusuh”

“Diam dan ikuti aku” ucapnya sambil menarik tanganku.

“Nona kau mau membawaku ke mana??”

Dia tidak menjawab, dia menarikku dan memaksaku masuk ke dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya dengan kencang, sampai akhirnya kami tiba di depan rumahnya, yang aku rasa itu bukan rumah, tapi pantas untuk di bilang sebagai Istana.

“Eomma…appa…..” dia berteriak memanggil Ayah dan Ibunya.

“Nona, apa yang kau lakukan??” ucapku mulai panik.

“Jiyeon-ah, kenapa kau berteriak-teriak??”

“Eomma..appa..ada yang ingin aku katakan pada kalian”

“Kau ingin mengatakan apa, dan jamkkanmanyo, bukankah kauu???” tanay Nyonya Park padaku.

“Annyeong Haseyo, Nyonya, Tuan” sapaku pada mereka.

“Kau anak pelayan Choi kan?”

“Ye,,,anda benar, aku Minho anak dari pelayan Choi Ji Han”

“Jiyeon-ah, bagaimana bisa kau bersamanya?”

“Eomma….appa…aku ingin banyak mengatakan sesuatu pada kalian. Aku ingin bertanya, apakah kalian masih mengganggapku sebagai anak kalian? Apakah kalian sangat menyayangiku??”

“Jiyeon-ah, pertanyaan apa itu? Tentu kami masih mengganggapmu sebagai anak kami, kau putri kami satu-satunya dan tentu saja kami sangat menyayangimu, sayang” ucap Nyonya Park

“Lalu jika kalian menyayangiku, apakah kalian pernah ada saat aku membutuhkan kalian? Apakah kalian pernah tau, apa yang aku butuhkan, apa yang aku nginkan, apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka?? Apakah kalian pernah tau kalo selama ini aku merasa kesepian? Aku merasa sendirian di rumah yang begitu besar ini?? Saat aku ulang taun, Ibu dan Ayah hanya memberiku ucapan lewat kartu, dan hanya memberiku kado? Bukan, bukan itu yang aku inginkan, tapi yang aku inginkan adalah kalian ada di sampingku, selalu menjagaku. Dan apa kalian tau siapa yang selalu ada di saat aku kesepian?? Di saat aku sedih siapa yang bisa menghiburku?? Mereka….” ucap Nona Jiyeon sambil menangis dan menunjuk ke arah kami yang ada di sana.

“Jiyeon-ah…” Nyonya Park menghampiri Nona Jiyeon dan memeluknya.

“Maafkan Ibu, nak. Kau benar, mungkin kami terlalu sibuk dengan pekerjaan kami sendiri selama ini, sampai-sampai Ayah dan Ibu tidak tau kalo kau ternyata begitu kesepian seperti ini. Maafkan Ibu…”

“Benar, maafkan Ayah juga Jiyeon, maaf..”

Mereka saling berpelukan, aku, Ibuku dan pelayan-pelayan yang ada di sana ikut terharu melihat keadaan seperti itu. Aku senang akhirnya Nyonya dan Tuan Park, bisa langsung mengakui kesalahan mereka yang selama ini sudah menelantarkan anaknya sendiri, membiarkannya hidup dalam kesepian dan kesendirian.

Aku melangkah perlahan, keluar dari rumah itu. Mereka tidak perlu menyadari keberedaanku di sana, Nona Jiyeon sudah mendapatkan perhatian orang tuanya lagi, itu sudah membuatku senang.

***

Aku menatap langit2 kamarku, entah apa yang aku pikirkan. Semalaman aku tidka bisa tidur. Aku merasa rindu saat-saat aku menemukan botol-botol dari Nona Jiyeon, tapi setelah dia tau bahwa aku yang menemukannya, apakah dia masih mau mengenalku?? Hah..entahlah…Aku mencoba memejamkan mataku, tapi terdengar seseorang berteriak memanggil namaku dari luar. Aku bergegas keluar melihat siapa yang memanggilku pagi-pagi begini dan…

“Nona Jiyeon, apa yang kau lakukan di sini??” ucapku menghampiri Nona Jiyeon yang sudah mengenakan pakaian sangat rapi.

“Kau tidak akan mengantarkan kepergianku??”

“Kepergianmu?? Memangnya Nona mau pergi ke mana??”

“Aku mau ke Amerika, Ayah dan Ibuku ingin aku tinggal di sana, supaya aku bisa selalu di dekat mereka”

Deg…

Entah kenapa hatiku merasa sakit saat mendengarnya.

“Nona Jiyeon akan ke Amerika?? Kenapa hatiku merasa sakit?? Hei…Minho, ingat dia bukan siapa-siapa mu, dia mau pergi ke amnapun itu bukan urusanmu, babo..” gumamku dalam hati.

“Hei,,,,kenapa kau melamun??”

“Ah..ye?? Anhio, lalu apa yang harus aku lakukan untuk melepas kepergianmu??”

“Cepat kau mandi, dan ganti bajumu” teriaknya sambil menutup matanya dengan kedua tangannya karna silau terkena sinar matahari.

“Ne..?? Ya,,baiklah. Kau masuklah dulu, tunggu di dalam saja di luar panas Nona.”

Dia mengikutiku masuk ke dalam rumah.

“Maaf Nona, rumahku tidak sebesar rumahmu, semoga kau tetap nyaman walopun hanya duduk di lantai seperti ini”

Dia tidak menjawab, hanya tersenyum manis.

“Ya Tuhan, dia sangat cantik ketika tersenyum seperti itu” gumamku

“Cepatlah, jangan lama-lama. Ayah dan Ibuku sudah menunggu”

“Ah,baiklah.”

Jiyeon POV

Saat dia mandi, aku mencoba melihat-lihat isi rumahnya, dan aku melihat ada kamar yang terbuka.

“Apakah itu kamarnya??” tanyaku dalam hati.

Aku mendekati kamar itu dan sepertinya itu bukan kamar, tapi seperti ruangan khusus untuk menyimpan foto, karna banyak sekali foto2 di sana. Aku penasaran, dan akhirnya aku masuk ke ruangan itu. Aku melihat beberapa foto yang di pajang di dinding, foto yang bagus. Apakah dia seorang photographer??? Dan tiba-tiba aku menemukan beberapa foto dalam satu tumpukan.

“Iniii,,kan fotoku???” tanyaku heran.

Banyak sekali foto2 ku di sana, dalam berbagai sudut. Dan sepertinya dia mengambil ini saat aku menyaksikan matahari terbenam?? Tapi kapan dia mengambil foto-foto ini?? Dan kenapa aku tidak melihat dia saat mengambil fotoku?? Aku melihat satu foto dan di belakangnya tertulis sesuatu, aku membalikannya dan membaca tulisan itu.

“Nona, kau sedang apa??” suara itu membuat aku terkejut dan aku langsung menyembunyikan foto-foto yang baru saja ku lihat seolah aku tidak melihat foto-fotoku di sana.

“Ah..ehmm,,aku..aku hanya penasaran saja saat tadi liat pintu kamar ini terbuka, dan sepertinya ini ruangan khusus hasil fotomu yah?? Bagus-bagus, kau seorang photographer??” tanyaku dengan nada gugup.

“Anhi,,itu hanya sekedar hobiku saja karna dulu sahabatku mewariskan kameranya apdaku”

“Benarkah?? Oh begitu. Oya,kau sudah siap kan?? Kaja..”

Di Airport….

“Minho terima kasih yah karna selama ini kau sudah menjadi teman putriku, dan kau sudah menjaganya dengan baik..” ucap Ibuku pada Minho

“Benar, terima kasih karna kau telah menjaga putriku selama ini, dia banyak bercerita tentangmu” ucap Ayahku ikut berterima kasih juga.

“Tuan, jangan bilang seperti itu. Selama ini aku….”

“Ah,,Ayah, Ibu ayo kita masuk pesawatnya sudah akan berangkat kan?” ucapku memotong omongan Minho.

“Oh,,ya, baiklah. Minho kami pergi dulu yah, kalo ada apa-apa kabari kami saja, nanti kami pasti pulang ke sini”

“Minho-ah, gomapta…” ucapku sambil tersenyum lalu melambaikan tanganku padanya.

“Terima kasih untuk apa Nona?”

Aku tidak menjawabnya, aku meninggalkan dia dalam keadaan seperti patung. Dia seolah ingin mengatakan sesuatu tapi aku langsung pergi meninggalkannya.

Di dalam pesawat, aku duduk sendirian, sedangkan Ayah dan Ibuku duduk di belakangku. Aku mengeluarkan foto yang tadi ku ambil dari ruangan Minho yang ku masukkan ke dalam saku. Aku membalikkan foto itu dan membaca tulisannya lagi.
Saat pertama kali aku melihatmu di pantai itu, aku sepertinya sudah jatuh cinta pada sosokmu, walopun aku belum melihat wajahmu dengan jelas. Sampai akhirnya aku melihatmu lagi di hari ulang taunmu, dengan mengenakan dress putihmu, kau terlihat sangat cantik. Hingga saat kau memelukku di pantai ketika kau menemukanku adalah penemu botol2 mu, aku merasa ada getaran lain dalam hatiku, entah perasaan apa itu tapi yang pasti aku sangat ingin terus bersamamu. Jika aku bisa, aku ingin menjadi penghiburmu di saat kau kesepian dan merasa sedih. AKu ingin selalu membuatmu tersenyum bahagia, karna kau memang pantas untuk bahagia…
“Nona, maaf pakai sabukpengamannya karna pesawat akan segera take off (?) ” ucap salah seorang pramugari.

Aku tidak mempedulikan ucapan pramugari itu, aku langsung beranjak dan pamit pada Ayah dan Ibuku.

“Eomma, Appa mian aku tidak bisa ikut kalian ke Amerika, aku ingin memilih jalanhidupku sendiri di sini. Aku mencintai kalian” ucapku sambil mengecup pipi mereka dengan cepat dan keluar dari pesawat sambil berlari berusaha mengejar Minho.

“Aku harap dia masih ada di Bandara ini” batinku.

Dan akhirnya aku melihat sosok dia, aku melihat punggungnya. Aku berhenti sejenak, dan mamanggilnya.

“Minho-ah….” teriakku memanggil namanya.

Dalam seketika dia menoleh ke arahku. Aku kembali berlari ke arahnya.

“Nona Jiyeon, kenapa kau di sini?? Kenapa kau tidak pergi ke Amerika??” ucapnya heran.

“Untuk apa aku pergi ke Amerika jika kebahagiaanku ada di sini” ucapku dterbata-bata karna lelah sudah berlari.

“Maksud Nona??”

“Minho-ah, kau tau saat pertama kali aku menaruh botolku di tepi pantai, aku pernah meminta pada Tuhan, jika yang menemukan botolku adalah seorang yeoja, maka aku ingin dia menjadi temanku. Tapi jika yang menemukan botolku adalah seorang namja, maka aku ingin dia menjadi jodohku. Dan sekarang aku sudah tau yang menemukannya adalah kau, jadi aku yakin kalo kau adalah seseorang yang Tuhan kirimkan untuk menjadi jodohku”

“Jinja??”

“Ye..dan Minho-ah, ada yang aku ingin tanyakan padamu?”

“Mwo??”

“Apakah kau mencintaiku??”

“Nona, apa maksudmu??”

“Igo…” ucapku sambil menunjukkan foto tadi.

“Foto,ituuu..kenapa ada pada Nona?”

“Mian, tadi aku mengambilnya dari ruanganmu, tapi apakah benar kau ingin membahagiakanku?? Kau ingin terus bersamaku??”

“Ituu..ehmm..”

“Jawablah..”

“Ne..itu benar Nona..” ucapnya dengan suara pelan.

“Kalo begitu, jadilah kekasihku dan buatlah aku bahagia”

“Ne…??”

“Kenapa? Kau tidak mau??”

“Ah,,bukan begitu maksudku, tapi apakah Nona tidak malu mempunyai pacar anak seorang pelayan seperti aku??”

“Memangnya kenapa?? Kau manusia juga kan?? Kau punya hati juga kan? Terus apa masalahnya?? Aku juga ingin terus bersamamu Minho, karna kau pria pertama yang bisa membuatku merasa tidak kesepian lagi dan bisa bahagia seperti ini”

“Jinja??”

“Ehm..” ucapku mengangguk mantap.

“Ah, dan satu lagi, mulai sekarang jangan panggil aku Nona, tapi panggil lah namaku”

“Tapi..Nona??”

Aku menatapnya dengan tatapan sinis.

“Ah,,baiklah non,,ehm..maksudku Jiyeon….Jiyeon-ah” ucapnya malu2.

Aku tersenyum…

“Peluk aku, kenapa kau diam saja?”

“Ye..?”

Aku memaksa dia untuk memelukku, dan akhirnya dia memelukku. Nyaman, hangat dan aku benar-benar bahagia dalam pelukannya. Akhirnya aku bisa menemukan kebahagianku yang aku tunggu selama ini, bersama Minho aku harap ini untuk selamanya..^^

Terima kasih botolku, kau yang telah membuat aku bertemu dengan kebahagiaanku…;*

~ The End ~