[FF REQUEST] I’m Still Waiting…


Author : Pinky Girl

Main Cast : Aina, Lee Suhoon / Mika

Support Cast : D-Na ( Hyunmin, Garam, Injoon, Jay ) and other

Genre : Sad Romance, Life

Rating : PG 15

Type : One Shoot

Poster by Vania Almighty Charisma

Disclaimer : Ini FF yang di Request Aina, moga suka..^^ Dan maaf agak lama bikinnya, soalnya dapet feelnya itu yang susah, suasana hatinya harus bagus dulu….heuheu,,,

NOT FOR SILENT READER…

Aina POV

Tempat ini, tempat di mana 11 taun yang lalu aku bertemu dengannya. Di mana dia menyuruhku untuk menunggunya kembali saat dia akan pergi ke Amerika bersama keluarganya. Seandainya dulu aku bisa melarangnya untuk pergi, mungkin saat ini aku tidak perlu lagi untuk menunggunya.

Flashback….

Lagi-lagi aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan, dia yang sedang asyik bergelut (?) dengan hobinya bersama teman-temannya di lapangan itu, mendribble bola, memasukkan bola ke dalam keranjang dan mencetak angka. Lee Suhoon, namja paling di sukai, di cintai, paling tampan, multitalent, kaya dan cool itu sudah membuatku merasakan cinta untuk pertama kalinya. Mungkin bisa di bilang, aku sudah mengalami Love at The First Sight padanya.

“Awaaaaaaas…” aku melihat semua orang sekarang memandang ke arahku dan berteriak hingga akhirnya aku tidak tau apa yang yang terjadi setelah itu, yang aku tau sekarang ini aku berada di Ruang Kesehatan Sekolah.

“Aina-ah, gwaenchana??? Syukurlah kau sudah bangun” Kim Soo Hee teman dekatku membantu aku bangun.

“Soo Hee-ah, aku di mana??” kepalaku terasa sangat pusing sekali.

“Kau di Ruang Kesehatan Sekolah, tadi kau terkena bola basket yang di lemparkan oleh Garam saat di lapangan”

“Ah..ya aku ingat tadi bola itu menghampiri kepalaku” aku masih memegang kepalaku yang terasa sakit.

“Ehm,,,tapi sepertinya dia sengaja melempar bola itu ke arahmu, dia kan sangat tidak menyukaimu, gara-gara tahu kau menyukai sahabatnya itu” Soo Hee mendedam pada Garam yang memang selalu bersikap buruk padaku.

“Yaaa..Soo Hee-ah, kau tidak boleh berpikir buruk seperti itu, lagipula aku juga yang salah, tadi kita duduk terlalu dekat dengan Ring, jadi saat mereka akan memasukkan bolanya, mungkin salah sasaran” aku mencoba untuk turun dari kasur.

“Yaa…Aina-ah, kau mau ke mana??”

“Aku bosan di sini, aku ingin kembali ke kelas saja”

“Mwo?? Kau masih lemas seperti itu mau langsung mnegikuti pelajaran??”

“Ehm…pelajaran itu lebih penting, daripada aku hanya bermanja-manjaan tidur di sini, membuang-buang waktu” ucapku sambil keluar dari Ruang kesehatan itu.

“Huaa,,kau ini, aku benar-benar kagum padamu, pantas saja kau jadi anak yang berotak lebih baik daripada aku”

“Apa maksud kata-katamu itu? Aku tidak bisa mencernanya”

“Hehe..maksudku, pantas saja kau sangat pintar, perhatian pada pelajaran saja sudah seperti perhatian pada kekasihmu sendiri”

“Aku belum pernah punya pacar, jadi aku tidak tau seperti apa itu perhatian pada seorang pacar”

“Ah,,ye, mianhaeyo, aku tidak bermaksud….”

Soo Hee tidak meneruskan ucapannya karna aku tiba-tiba menghentikan langkahku karna melihat seseorang yang selalu membuat jantungku berdegup kencang.

“Gwaenchana??”

Pertanyaan itu??? Ya Tuhan, itu adalah kata pertama yang dia ucapkan padaku setelah sekian lama aku mengenalnya, namun dia belum pernah berbicara padaku. Dan saat itu dia bahkan memberikan perhatiannya padaku??? Aku ingin sekali ada seseorang yang mencubitku sekarang, apakah ini sebuah mimpi atau benar-benar kenyataan???

“Yaa..Aina-ah, dia bertanya padamu” Soo Hee menyenggol tanganku yang sedang melamun.

“Ye..?? Ah, ne nan gwaenchanayo..” aku tersenyum kecil padanya.

“Maafkan temanku tadi, dia tidak sengaja melempar bolanya padamu”

“Yaaa…Mika-ah, kau ini bicara apa?? Untuk apa kau meminta maaf padanya?? Lagipula itu salahnya sendiri, kenapa melamun dan tidak memperhatikan bola yang padahal saat itu menghadangnya” Garam lagi-lagi berbicara sinis padaku.

“Apapun alasannya kau tetap salah. Baiklah kalau begitu kami permisi, kaja” ucapnya membungkukan badannya dan berlalu dari hadapanku dan Soo Hee bersama teman-temannya itu.

“Ah, ye…” aku terpaku, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi beberapa detik lalu itu.

Suhoon atau yang akrab di panggil Mika oleh teman-temannya, yang berpapasan denganku dan Soo Hee di lorong sekolah, menyempatkan untuk menghentikan langkahnya hanya untuk menanyakan keadaanku dan meminta maaf padaku?? Padahal itu bukan kesalahannya?? Ya Tuhan aku akan mendaftarkan diriku mulai detik ini sebagai wanita yang akan selalu mencintainya karna aku tau dia benar-benar laki-laki yang sangaaaaaat baiiiiik.

“Soo Hee-ah, cepat kau cubit aku sekarang” aku menempelkan tangan Soo Hee ke pipiku dan memaksanya untuk mencubitku.

“Yaa,,kau ini apa-apaan” Soo Hee menolak.

“Aku hanya ingin memastikan, apakah aku sedang bermimpi atau tidak??”

“Babo-ah, tentu saja ini kenyataan, kau tidak bermimpi Aina-ah…” Soo Hee akhirnya mencubit juga pipiku.

“Auuuuww,,sakiit..” keluhku kesakitan.

“Bukankah kau yang menyuruhku mencubitmu??”

“Ah,,jadi barusan tadi aku tidak bermimpi?? Suhoo menanyakan keadaanku dan bahkan dia meminta maaf padaku??” aku masih tidak percaya.

“Yeeeee…..dan itu adalah……” Soo Hee menatapku.

“Awal yang baguuuusss..” aku dan Soo Hee berjingkrak-jingkrak bersama dan semua orang sekarang memandangi kami aneh.

***

“Hei..nona, kau tidak pegal berjalan terus setiap hari???” suara seseorang menghentikan langkahku yang sedang berjalan sepulang sekolah dan aku langsung menoleh ke arah orang itu yang duduk di dalam mobilnya.

“No..?? Suhoon-ah” aku terperanjat saat melihat siapa yang ada di dalam mobil itu.

“Cepat naik…” perintahnya sambil turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.

“Ye….???” aku terkejut dengan ajakannya.

“Sudah jangan banyak bicara dan cepat naik sebelum aku berubah pikiran”

“Ne….? Ehmm,,,geundae….”

“Satu…dua…”

“Ah,,ye, baiklah aku naik” aku tidak sadar jika sekarang aku sudah duduk di mobilnya.

Kau tau, ini pertama kalinya aku naik mobilnya, sekarang ini dia duduk di sampingku, kami naik mobil bersama? Ya Tuhan apakah ini kenyataan??

“Apa yang sedang kau pikirkan? Sampai-sampai kaku seperti patung begitu?? Ah,,jangan-jangan kau sedang berpikir apakah ini kenyataan atau mimpi, kau bisa naik mobilku, iya kan?”

“Ah,,anhio, aku tidak berpikir apa-apa” ucapannya spontan membuatku terkejut dan salah tingkah, seolah dia bisa membaca pikiranku.

Mendengar jawabanku dia hanya tersenyum sambil melihat ke arah jendela. Astaga dia tersenyum? Apakah dia tersenyum karna aku?? Senyumannya itu benar2 membuat hatiku tenang.

“Rumahmu di mana??”

“Eh?? Di Gangnam…”

“Baiklah, tolong ke Gangnam dulu sebentar, mengantar temanku” ucapnya bicara pada supir pribadinya itu yang setiap hari mengantar jemputnya.

“Ne…baik Tuan muda”

“Suhoon-ah, kau benar akan mengantarku ke rumah? Tidak perlu repot-repot seperti itu, biar aku turun di halte bis depan sana saja, eoh??” aku memohon padanya.

“Sudahlah, kau jangan banyak bicara, aku tidak mau besok melihat di MADING Sekolah, salah seorang siswi jatuh pingsan di jalan dan di karenakan merasakan pusing di kepalanya yang sedang terluka dan di perban. Haha..itu akan sangat memalukan”

Aku tidak menjawab, aku hanya terus menatapnya. Apakah dia benar-benar Suhoon, yang terkenal dengan sikapnya yang selalu dingin pada wanitawanita dan sangat pendiam?? Hari itu aku melihat sosoknya yang benar-benar lain dari biasanya, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengannya?? Apakah otaknya sedang konslet?? Atau dia salah memakan sesuatu?? Apa yang membuatnya sekarang baik padaku?? Padahal selama ini, dia juga bersikap dingin padaku? Apakah dia mulai menyukaiku?? Ah,,anhi..anhi, Aina-ah, apa yang sedang kau pikirkan??

“Maaf Pak, di depan sana belok kiri saja” ucapku pada Supir Suhoon dan memunjuk jalan ke arah rumahku.

“Ne…”

“Sudah Pak, di depan berhenti itu rumahku”

“Ah,,ye…”

“Jadi ini rumahmu??” dia melihat rumahku saat kami turun dari mobil, tapi belum sempat aku menjawabnya tiba-tiba appa dan eomma ku keluar dari rumah sambil bertengkar.

“Kau laki-laki kurang ajar, kerjaanmu hanya mabuk-mabukan setiap hari, minta uang, padahal uangnya kau pakai untuk judi dan mabuk-mabukan, kau ini laki-laki, seharusnya kau yang mencari uang bukan aku, pikirkanlah anak kita Aina yang masih sekolah” ucap eomma sambil memukul-mukul badan appa

“Aahh..aku tidak peduli dengan kalian, aku bosan diam di rumah terus, lagipula untuk apa aku bekerja, kan sudah ada kau”

“Yaaa…..kau…” eomma sudah kehilangan kesabarannya dan akan memukul appa lagi tapi aku segera menghalanginya.

“Eommaaaaa….jangan” aku menahan tangan eomma.

“Aina-ah, kau sudah pulang?” eomma kaget melihat kedatanganku dan langsung menangis.

“Appa….jangan seperti ini lagi pada eomma, kalau kau mau mabuk-mabukan, jangan minta uang lagi pada eomma, kasian dia selama ini bekerja keras untuk kita, tapi kau hanya gunakan uang itu untuk mabuk-mabukan dan judi” aku memang malu karna saat ini Suhoon pasti melihat keadaan keluargaku yang sebenarnya, tapi aku tidak peduli lagi, memang seperti inilah keluargaku dan aku tidak bisa membiarkan eomma dan appa terus bertengkar seperti itu setiap hari.

“Ah,,sudahlah, aku lebih baik pergi, aku muak melihat kalian berdua” appa marah dan pergi dari rumah.

“Eomma,,gwaenchanayo?? Apakah appa melukaimu??” aku menatap eomma dan memerhatikan wajahnya.

“Anhio,,dia tidak melukai fisikku, tapi dia melukai hati eomma mu ini, nak” eomma memelukku dan menangis.

“Aina-ah, kalau begitu aku permisi dulu” Suhoon yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran eomma dan appa, akhirnya pamitan padaku yang sedang memeluk eomma.

“Ah,,Suhoon-ah, mianhaeyo sudah membuatmu menunggu dan terima kasih sudah mengantarku pulang”

“Aina-ah, siapa dia??”tanya eomma yang tangisnya mulai mereda.

“Ah,,eomma kenalkan dia teman sekelasku, Lee Suhoon. Tadi dia mengantarku pulang”

“Ah,,Suhon-ssi, aku eomma nya Aina, terima kasih sudah mengantar putriku ke sini”

“Ah,,,,ye ahjumma, senang berkenalan denganmu”

“Aigoo,,kau ramah sekali, nak. Ah..kalau begitu masuklah dulu, biar bibi suguhkan minum”

“Ah,,anhio ahjumma, lain kali saja aku ke sini lagi. Baiklah kalau begitu aku permisi dulu” dia membungkukkan badannya dan berpamitan.

“Ah,,ye…terima kasih dan hati-hati…” jawab eomma

“Suhoon-ah, gomawoyo”

“Ye..Aina-ah, aku pulang”

Keesokan harinya….

Aku benar-benar tidak ada muka untuk bertemu dengan Suhoon setelah kemarin dia menyaksikan pertengkaran eomma dan appa. Hah..apa yang akan dia pikirkan yah?? Apa dia jadi tidak ingin berteman denganku lagi karna orang tua ku yang bermasalah?? Huaaaa….entahlah apa yang akan terjadi, tapi aku benar-benar berharap dia masih mau berteman denganku dan tidak berubah lagi.

“Pagi2 sudah melamun, bagaimana kalau ada hantu yang masuk ke tubuhmu?” dia tiba-tiba berjalan di sampingku saat aku berjalan menuju kelas.

“Suhoon-ah? Ash,,kau mengagetkanku saja” ucapku terkejut sambil mengelus-ngelus dadaku.

“Aku dari tadi berjalan di belakangmu masa kau tidak sadar?”

“Jinja?? Ah,,,ye, aku tidak tau”

“Iya karna dari tadi aku perhatikan kau melamun terus”

“Ehmmm….Suhoon-ah”

“Hmm…?”

“Soal kemariin, maafkan aku karna kau harus melihat keadaan keluargaku yang seperti itu” aku memberanikan diri untuk meminta maaf padanya dengan menundukkan kepalaku.

“Kenapa kau harus minta maaf?? Itu kan masalah keluargamu, memangnya ada hak apa aku harus marah atau tidak enak dengan keadaan itu?? Aku berteman denganmu, tidak harus melihat keadaan keluargamu, kan??”

“Apa?? Teman…?? Ah,,yah, seharusnya dari awal aku sudah tau, kalau dia bersikap baik padaku mungkin hanya ingin berteman denganku bukan karna dia mulai menyukaiku, ah..Aina kau bodoh sekali sudah GR duluan” gumamku dalam hati.

“Kau kenapa diam?”

“Ye..?? Ah,anhia…”

“Baiklah ayo masuk” ajaknya saat kami sudah tiba-tiba di depan kelas.

Semua orang di dalam kelas sekarang memandang ke arah kami yang datang secara bersamaan. Teman-temannya memandang aneh padaku dan begitu juga dengan wanita-wanita yang ada di kelas itu.

“Yaakk…Aina-ah, kau datang dengan Suhoon??” tanya Soo Hee saat aku duduk di bangkuku.

“Anhi….tadi kami hanya berjalan bersama di lorong menuju ke sini” jawabku polos.

“Mwo??? Bagaimana bisa??” Soo Hee benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.

“Ya,Soo Hee-ah, nanti pulang sekolah kita ke rumahmu, ada yang ingin aku ceritakan padamu, eoh??”

“Tentang apa?? Apakah tentang Suhhon??”

“Ah,,sudahlah, pokonya nanti saja aku ceritakan”

“Yaakk..kau sudah membuatku penasaran” Soo Hee tidak bisa menahan rasa penasarannya dan aku hanya tersenyum.

***

“MWO???? Jadi kemarin Suhoon mengantarmu pulang ke rumah??” Soo Hee seolah tidak percaya dengan apa yang aku katakan.

“Ehmm…tapiii….”

“Tapi apa??” Soo Hee mendekat padaku yang sekarang sedang duduk di kasurnya.

“Kemarin dia melihat eomma dan apap bertengkar” ucapku sambil mengerucutkan bibirku.

“Jinja??? Lalu dia berkata apa??”

“Dia bilang tidak apa-apa, karna dia bilang dia berteman denganku tidak melihat seperti apa keadaan keluargaku”

“Benarkah dia bilang seperti itu??”

“Ehm..” aku mengangguk-ngangguk pelan.

“Aina-ah, aku jadi bingung, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa kemarin dia tiba-tiba berubah padamu? Pertama dia tiba-tiba menanyakan keadaanmu setelah kau jatuh pingsan terkena bola, lalu dia mengajakmu pulang bersama dan tadi pagi dia berjalan bersamamu ke kelas??? Apakah dia sedang merencanakan sesuatu padamu??”

“Yaakk….Soo Hee-ah, kau ini kenapa suka sekali berpikiran buruk pada orang lain??? Mungkin saja dia begitu karna dia benar-benar ingin berteman denganku, kan?”

“Hmm,,benar juga, tapi entah kenapa aku merasa aneh saja”

“Ah,,sudahlah jangan berpikir yang macam-macem lagi. Yaa..ada makanan tidak?? Aku lapar…” ucapku sambil mengelus-ngelus perutku yang sudah berdemo minta di isi sesuatu.

“Hmm,,,entahlah, ayo kita ke dapur ada makanan tidak di sana” dia menarik tanganku keluar.

3 hari kemudian…

“Hei….kemarin aku melihat orang tua Aina bertengkar lagi. Ash,,apa mereka tidak malu bertengkar terus seperti itu di depan rumah?? Kan orang-orang jadi memerhatikan mereka. Keluarganya benar-benar tidak tau malu” aku mendengar Ye Jin teman sekolahku yang rumahnya dekat denganku, sedang membicarakan keluargaku pada Hee Jin temannya. Meskipun dia berbisik-bisik karna ini di ruang perpustakaan tapi aku cukup mendengar apa yang dia bicarakan. Aku terdiam dan berusaha untuk tidak terpancing dengan ucapannya. Aku sudah biasa mendengar dia membicarakan masalah keluargaku pada teman-temanku yang lain. Aku pernah marah dan menegurnya, tapi dia tidak pernah jera untuk terus usil mengumbar masalah keluargaku.

“Pakai ini?” seseorang menyodorkan headset ke arahku.

“Suhoon-ah??”Suhoon yang tiba-tiba duduk di sampingku langsung memasangkan sebelah headsetnya ke telingaku.

“Tidak ada lagunya?” tanyaku aneh karna headset yang dia berikan tidak ada lagunya.

“Karna belum aku Play” dia tersenyum manis ke arahku sambil memencet tombol Play di Ipod kesayangannya itu.

“Saat semua orang sedang membicaraknmu, kau cukup tutup telingamu dengan ini dan dengarkan lagu dengan sangat keras, maka kau tidak akan mendengar apapun yang mereka bicarakan lagi, arasso?” dia menatapku dan kembali serius mendengar lagu yang sedang kami dengar bersama. *ini kaya adegan di Dream High waktu Taecyeon ngasih sebelah headsetnya ke Suzy di halte bis, hehe..;)

“Lagunya enak” aku tidak sadar ternyata aku juga ikut menikmati lagu itu.

“Ini lagu kesukaanku” ucapnya tanpa menoleh ke arahku.

1 hal yang sekarang aku tau tentangnya, lagu favoritnya adalah Admiring Boy yang di nyanyikan oleh D-NA.

“Yoboseyo..?” Suhoon mengangkat telfonnya yang tiba-tiba berdering.

“Suhoon-ah, kau di mana??” suara seseorang sedang berbicara di seberang sana dengan nada panik.

“Aku di perpustakaan, wae??”

“Cepat kau pulang, sesuatu telah terjadi pada appa mu”

“Mwo??? Baiklah aku akan segera pulang, Hyunmin gomawo”

“Aina-ah, aku pulang dulu ada sesuatu terjadi dengan appa ku” Suhoon beranjak dan langsung menghilang dari hadapanku yang sekarang benar-benar ikut khawatir padanya, sebenarnya apa yang sudah terjadi??

“Aina-ah, apa kau sudah mendengar berita kalau appa Suhoon mengalami kebangkrutan?” Soo Hee tiba-tiba bertanya padaku saat aku duduk di kelas.

“Benarkah??? Jadi, tadi Suhoon pulang untuk…Soo Hee-ah, tolong kau mintakan ijin pada Guru kalau aku pulang duluan yah, aku mohon, eoh??” aku cepat-cepat mengambil tasku dan keluar dari kelas.

Di rumah Suhoon…

Aku melihat rumahnya sekarang sudah penuh dengan para wartawan yang ingin mengambil berita tentang kabar Lee Jung Woo Direktur dari salah satu Perusahaan Televisi Korea, mengalami kebangkrutan. Aku mendekat ke arah kerumunan para wartawan itu dan aku berusaha untuk menunggu sampai Suhoon keluar dari rumahnya. Tapi akhirnya para pengawal Suhoon mencoba untuk mengusir kami yang ada di depan rumah dan aku pun ikut terusir. Akhirnya aku bersembunyi di balik tiang listrik dekat rumahnya, sambil terus memasang pandanganku ke arah rumah Suhoon. 2 jam, 4 jam dan 6 jam aku berdiri di sana, sampai langitpun berubah menjadi gelap, Suhoon belum juga keluar dari rumahnya, sampai tiba2 aku mendengar seseorang membuka pintu gerbang.

“Suhoon-ah” ucapku pelan saat melihat ternyata Suhoon akhirnya keluar juga, aku langsung berlari menghampirinya.

“Suhoon-ah..”

“Aina-ah, kau…kau sedang apa di sini?? Kau masih memakai seragam sekolah?? Sejak kapan kau ada di sini??” Suhoon cukup terkejut melihatku.

“Aku, ada di sini dari tadi siang”

“Jadi kau di depan rumahku selama 6 jam??”

“Tidak penting berapa jam aku menunggumu di sini, yang penting aku ingin tau bagaimana keadaanmu”

Dia tidak menjawab lagi, tapi sekarang dia tiba-tiba memelukku dan membuat jantungku berdegup sangat kencang.

“Suhoon-ah, gwaenchana??”

“Aina-ah, bolehkah aku seperti ini untuk 5 menit saja??” ucapnya masih tidak melepaskan pelukannya dan aku hanya bisa terdiam dan pasrah di peluknya.

Di taman….

“Sebenarnya aku sudah tau kalau appa ku akan bangkrut dari beberapa hari lalu, tapi aku berusaha untuk tegar menghadapinya. Dan sampai akhirnya hari ini, berita kebangkrutan appa ku akhirnya tercium oleh media masa dan menjadi konsumsi publik, aku tidak bisa menahan rasa sedihku melihat appa dan eomma yang sangat terpukul akan keadaan ini” dia mulai menceritakan duduk masalahnya saat kami duduk di sebuah taman dekat rumahnya.

“Memangnya kenapa perusahaan appa mu mengalami kebangkrutan?” aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.

“Entahlah, mungkin karna pemasukan di perusahaan tidak sebanding dengan pengeluarannya yang melebihi batas”

“Benarkah??”

“Ehm….”

“Suhoon-ah, mian karna sebagai teman aku tidak bisa membantumu untuk mengatasi masalah ini, tapi aku hanya berharap semoga perusahaan appa mu bisa kembali pulih” ucapku berusaha menegarkannya.

“Anhi…Aina-ah, kau sudah ada di sini saja itu sudah sangat membantuku, karna kenyataannya teman-teman yang selama ini selalu ada di saat aku merasakan kesenangan dan selalu ada di sampingku, tidak ada di sini sekarang. Tapi kau, bahkan kita baru dekat beberapa hari lalu tapi kau yang ada di sampingku saat aku sedang susah seperti ini” ucapnya sambil menatapku.

“Ah,,Suhoon-ah, bukankah kita seorang teman, jadi sudah sepantasnya aku menemanimu saat kau sedang susah, ia kan?” aku berusaha menghindari tatapannya yang semakin lama membuatku tidak sanggup untuk menyembunyikan perasaan bahagiaku yang sekarang berada di sampingnya.

“Ah,,ya kau benar”

“Suhoon-ah….”

“Ehmm…?”

“Ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan padamu”

“Mwo??”

“Sebenarnya, belakangan ini kenapa kau tiba-tiba baik padaku?? Ah,,maksudku aku aneh saja dulu kau kan sangat dingin padaku, tapi saat aku jatuh pingsan terkena bola oleh Garam, kau jadii baik padaku” aku berusaha untuk mengumpulkan keberanianku bertanya hal itu padanya.

“Hah,,sebenarnya aku sudah tau dari teman-temanku kalau kau menyukaiku sudah lama, tapi kau juga pasti tau sikapku selalu dingin pada wanita. Tapi karna aku melihat ada sesuatu yang berbeda pada dirimu, jadi aku penasaran dan ingin mengenalmu, seperti apa sebenarnya dirimu, makannya aku memutuskan ingin mulai berteman denganmu. Dan ternyata…”

“Ternyata apa???” tanyaku penasaran.

“Ternyata kau memang menyenangkan dan kau teman yang paling baik” dia mencubit pipiku.

“Ah,,sakiit..” aku mengerang kesakitan dan memegang pipiku.

“Hehe..mian” jawabnya polos.

Aku benar-benar senang, bahagia dan merasa tenang karna dia bisa tertawa di saat dia menghadapi masalah yang mungkin sangat berat untuknya.

Keesokan harinya….

“Hei….Garam, Jay, Injoon, Hyunmin” dia menyapa sahabat-sahabatnya itu yang sudah lebih dulu berada di kelas.

Tapi sahabat-sahabatnya itu seolah tidak menganggap kehadirannya di sana.

“Eh..Injoon, kau tau tidak kemarin aku baru saja membeli iPad terbaru dan….” Garam dan Injoon memalingkan wajah mereka dan seolah pura-pura tidak mendengar Suhoon yang menyapa mereka.

“Hyunmin, aku duduk denganmu saja yah” Jay yang biasanya duduk dengan Suhoon, tiba-tiba ingin pindah tempat duduk dengan Hyunmin.

Aku tidak sanggup lagi melihatnya, semua orang di dalam kelas pun sekarang menatap aneh pada Suhoon, mereka seolah tidak menganggap lagi Suhoon yang dulu mereka puja, mereka banggakan dan mereka kagumi, namun kini seolah tidak ada artinya lagi bagi mereka.

“Hei,,kau sudah dengar belum berita tentang appa Suhoon yang bangkrut??”

“Ia,,aku sudah dengar, aha bagaimana ini, kalau Suhoon jatuh miskin, aku tidak mau menyukainya lagi”

“Ya,,kau benar, kita kan menyukai dia karna selama ini dia laki terkaya di sekolah kita, kalau sekarang jatuh miskin, apalagi yang bisa aku harapkan darinya”

Aku mendengar beberapa orang yang membicarakan tentang masalah appa Suhoon yang bangkrut, semua orang mencibirnya, semua orang menjahuhinya, ada apa sebenarnya dengan mereka?? Mereka bilang apa? Karna Suhoon jatuh miskin, mereka jadi tidak mau menyukai Suhoon lagi?? Hah,,,memangnya siapa mereka? Lagipula Suhoon juga tidak akan mau menyukai mereka. Ah…aku jadi terbawa emosi saking kesalnya mendengar dan melihat sikap mereka yang sekarang menjauhi Suhoon.

“Aku juga mau dengar” aku melepaskan sebelah headset dari telinganya dan memasangkannya di telingaku.

“Aina-ah??” dia kaget dan menoleh ke arahku.

“Kalau kau tidak ingin mendengar cibiran mereka, kita sama-sama saja dengar lagu ini, biar mereka berbicara sampai membusa pun kita tidak akan mendengarnya, eoh??” dia tersenyum mendengar ucapanku, tapi aku juga tidak menampik kalau aku melihat Suhoon sebenarnya cukup tertekan dengan semua ini.

***

Saat aku kembali ke sekolah untuk mengambil bukuku yang tertinggal di kelas, aku mendengar ada seseorang yang sedang bermain Basket di lapangan sekolah. Aku berjalan ke arah lapangan karna penasaran siapa sebenarnya yang bermain Basket malam-malam seperti ini dan ketika aku mendekat aku melihat sosok itu sedang mendribble bola dengan pebuh amarah. “Suhoon?”

“Ternyata dengan seperti ini kau melampiaskan kesediahnmu?” tanyaku yang tiba-tiba duduk di sebalahnya yang sekarang in isudah kelelahan bermain Basket dan membaringkan tubuhnya di lapangan.

“Aina-ah?” dia terbangun dan terkejut melihat kehadiarnku dengan nafasnya yang terengah-engah.

“Kalau kau ingin menangis, menangsilah, aku pinjamkan pundak untukmu” candaku sambil menyodorkan pundakku padanya.

Tapi tiba-tiba aku tidak bisa bernafas, aku tidak bisa menggerakan tubuhku, padahal tadi aku hanya bercanda menawarinya untuk menyender di pundakku, tapi ternyata dia menganggapnya serius dan dia….dia menyender di pundakku sekarang??

“Aku tidak percaya kalau teman-temanku akan menjauhiku hanya karna perusahaan appa ku bangkrut, aku pikir mereka adalah teman yang baik untukku, aku pikir mereka akan membantuku dan memberiku semangat, tapi ternyata aku salah” akhirnya dia mengeluarkan semua uneg-unegnya sambil tetap menyender di pundakku tanpa aku yang bertanya.

“Suhoon-ah, semua orang itu memiliki kekurangan, mungkin itulah kekurangan teman-temanmu, mereka hanya mau berteman denganmu di saat kau menjadi anak dari seorang Direktur Perusahan Besar. Tapi saat kau tidak memiliki apa-apa, mereka malah meninggalkanmu, mungkin itulah cara Tuhan yang ingin membuka matamu, bahwa mereka bukanlah teman yang baik untukmu. Semua hal yang menurutmu buruk, belum tentu buruk di mata Tuhan. Siapa tau kau dan keluargamu saat ini sedang di uji, Dia ingin tau sejauh mana kalian bisa melewati ujian yang Dia berikan ini. Percayalah akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yang kau alami, eoh??”

“Aina-ah, inilah yang membuat aku semakin kagum padamu, aku sudah melihat keadaan keluargamu seperti apa, tapi selama ini aku tidak pernah melihatmu mengeluh atau sedih” ucapnya sekarang menatapku.

“Suhoon-ah, kau salah, sebenarnya aku juga pernah sedih, aku juga pernah merasa lelah dengan semua masalah yang aku hadapi, tapi apa?? Apakah dengan aku sedih, dengan aku mengeluh, semua masalahku akan selesai?? Tidak, tapi aku selalu berusaha untuk tegar menghadapi semua itu, karna aku percaya Tuhan akan memberikanku sesuatu yang indah di balik semuanya. Ada saatnya orang akan datang, ada saatnya orang akan pergi, ada saatnya orang akan tertawa, ada saatnya juga orang akan menangis, dan ada saatnya orang akan menjadi kaya, tapi ada saatnya juga dia akan jatuh miskin. Semua itu adalah garis yang sudah di tentukan oleh Tuhan kepada setiap manusia, dan tidak ada satu orang pun yang sanggup untuk menolaknya”

“Aina-ah….”

“Ehmm….?” aku menoleh ke arahnya secara tiba-tiba dan ternyata dia juga sedang menatapku, jarak wajah kami sekarang sangat dekat.

Deg..deg..

Ya Tuhan semoga dia tidak mendengar detak jantungku yang sekarang berdetak melebihi batas normal.

“Ah..Suhoon-ah, ajari aku bermain Basket” aku langsung mengambil bola basket yang ada di tangannya dan mencoba mendribble bola itu untuk berusaha menghindar dari tatapannya lagi.

“Baiklah, aku akan mengajarimu, dan ah mendribble bola yang baik itu bukan seperti itu tapi seperti ini” dia mengambil bola dari tanganku dan mencontohkan cara mendribble bola yang benar.

“Kau dribble dan kau lemparkan bola ke arah Ringnya begini” dia berhasil memasukkan bola itu ke dalam Ring.

“Whoaaaa….kau hebat sekali dengan jarak jauh seperti itu berhasil memasukan bolanya” aku bertepuk tangan kagum pada kemampuannya bermain Basket.

“Haha…kalau aku tidak hebat, bagaimana mungkin aku menjadi pemain Basket” ucapnya dengan penuh rasa bangga.

“Tch..kau ternyata sombong juga yah?? Hahaha…”

Malam itu kami bermain Basket bersama, dia dengan sabar mengajariku bermain Basket, meskipun aku sangat susah untuk memahaminya, tapi aku senang karna aku berhasil memasukkan satu bola ke dalam Ring.

***

“Annyeong..” sapaku pada Suhoon yang baru selesai mengganti pakaian seragam kerjanya di ruang ganti.

“Aina-ah, kau mengagetkanku saja. Kau sedang apa di sini??” tanyanya kaget.

“Kau tidak lihat? Aku juga memakai seragam yang sama denganmu” ucapku memutarkan badanku.

“Kau?? Kau bekerja di sini juga??”

“Eoh…aku akan menemanimu bekerja di sini, kebetulan aku juga ingin membantu eomma”

“Jinja??”

“Eoh..Sunbaenim, aku mohon bimbinganmu” aku membungkukkan badanku di depannya.

“Yaak…kau tidak usah berlebihan seperti itu, aku kan baru bekerja di sini 1 minggu, jadi mana bisa aku di bilang sunbae olehmu”

“Walaupun baru 1 minggu, tetap saja kau yang lebih dulu bekerja di sini di banding aku”

“Hei..kalian berdua hanya akan berdiri terus di sana?” pemilik Toko itu menghampiri kami.

“Ah..ia maaf Pak, kami akan mulai bekerja” ucapku dan Suhoon bersamaan.

Suhoon sekarang tidak memiliki apa-apa lagi, semua fasilitas mewah yang selama ini dia terima sudah tidak ada lagi, mobil jemputan, rumah mewah semua itu sudah tidak ada lagi, yang dia miliki sekarang hanya iPod kesayangannya itu, yang selalu menemaninya saat dia sedang bosan atau sedih.

3 hari berlalu, aku dan Suhoon menikmati pekerjaan baru kami. Bekerja di Toko Roti tenyata juga menyenangkan walaupun agak lelah, tapi aku senang karna ada Suhoon juga di sana.

“Aku antar kau pulang” ucapnya saat kami pulang bekerja hari ini.

“Ye…? Ah..Suhoon-ah, tidak usah, nanti kalau pulang kemalaman ke rumahmu”

“Ini sudah malam, aku tidak akan membiarkan kau pulang sendirian, aku ini laki2, jadi tidak akan apa-apa kalau pulang sendirian malam2”

“Tapi apakah tidak merepotkanmu?”

“Anhi…kaja”

Akhirnya aku menerima tawarannya untuk mengantarku pulang sampai ke rumah. Saat kami berjalan dan akan dekat dengan rumahku, aku melihat ada seorang pria separuh baya sedang berdiri di depan pintu rumahku.

“Appa?”

“Ah..Aina-ah, kau sudah pulang” ternyata pria itu adalah appa ku.

“Appa kau sedang apa di sini?? Kenapa kau tidak masuk?”

“Aku sedang menunggumu, nak”

“Menungguku?? Kenapa?? Apa kau butuh uang?” aku mengeluarkan dompet di dalam tas ku.

“Anhi, Aina-ah, aku tidak meminta uang padamu, appa….”

“Lalu apa??”

“Aina-ah putriku, maafkan appa mu ini, nak. Appa sudah berdosa menelantarkanmu dan juga eomma mu. Appa sadar appa salah, appa selama in hanya memikirkan kesenangan appa sendiri tanpa memikirkan kalian berdua, maafkan appa, maaf..” appa tiba2 memelukku sambil menangis.

“Appa..kau jangan menangis lagi, kau juga tidak usah merasa bersalah seperti itu, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf, seburuk apapun yang appa lakukan, appa tetap appa ku. Dan aku tetap akan menghormati appa sebagai appa ku. Aku senang sekarang appa sudah sadar akan kesalahan appa, dan aku mohon jangan lakukan itu lagi, eoh?” aku mengusap air mata appa.

“Ye..Aina-ah, appa janji padamu dan juga eomma mu, appa tidak akan melakukan itu lagi, appa akan menjagamu dengan baik mulai sekarang. Terima kasih Aina-ah, kau sudah memaafkan appa”

“Ye..appa” aku kembali memeluk appa sambil melihat ke arah Suhoon yang sedang tersenyum kagum padaku.

Aku senang akhirnya appa ku sudah berubah, appa ku sekarang sudah kembali. Yah, inilah hasil dari kesabaranku selama ini menghadapi ujian memiliki appa yang suka sekali mabuk-mabukan dan berjudi, pada akhirnya dia kembali padaku dan juga eomma dengan sendirinya.

2 bulan kemudian…

“Aina-ah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” ucap Suhoon saat datang ke rumahku karna hari ini hari libur kami.

“Ke mana??”

“Ayo ikut saja, ahjumma, ahjussi aku pinjam anakmu dulu yah” ucap Suhoon sambil menarik tanganku keluar dan pamitan pada eomma dan appa.

“Ye..Suhoon-ah, hati-hati yah” teriak eomma.

“Taman hiburan?? Untuk apa kau mengajakku ke tempat ini??” tanyaku saat kami sampai di taman hiburan.

“Ayo, kita masuk saja, hari in kita bersenang-senang, belakangan ini kita sudah lelah belajar dan bekerja, jadi hari ini kita nikmati hari libur kita untuk bersenang-senang, eoh??”

Aku tidak menjawabnya karna dia langsung menarik tanganku. Dia mengajakku untuk naik wahana Jetcoaster, Bianglala, dan beberapa wahana di taman hiburan itu. Karna aku takut sekali ketinggian, saat aku menaiki wahana-wahana itu aku hanya menutup mataku dan sesekali juga aku memeluk tangannya saat naik Jetcoaster sambil berteriak-teriak.

“Aina-ah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat lagi”

“Odi??”

Dia kembali menarik tanganku dan sekarang dia mengajakku ke pantai.

“Kenapa sekarang kau mengajakku ke tempat ini??”

“Aina-ah, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu” aku mendengar ucapannya dengan samar-samar suara deburan ombak pantai itu.

“Mwo??” ucapku agak teriak.

“Terima kasih selama ini kau sudah hadir dalam hidupku, untuk menemaniku di saat aku sedang mengalami musibah, kau memberiku semangat untuk bangkit lagi, kau juga menemaniku bekerja dan semua itu membuatku benar-benar merasa nyaman berada di dekatmu. Aku melihat ketulusanmu padaku selama ini, kau tidak hanya menyukaiku di saat aku sedang berada di atas, tapi kau juga tetap ada di sampingku saat aku berada jatuh di bawah. Dan sekarang ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu….Aku…..Aku mencintaimu Aina-ah..”

“Mwo?? Aku tidak mendengar kata-kata terakhirmu??” aku tidak mendengar jelas ucapan terakhirnya karna suara deburan ombak yang semakin keras.

“AINA-AH, SARANGHAE……” ucapnya sambil berteriak ke arah pantai.

“Yaaa…kenapa kau berteriak seperti itu??”

“Aina-ah, jujur aku katakan padamu, aku benar-benar mencintaimu”ucapnya sambil mengenggam kedua tanganku.

“Yaa…dalam drama-drama TV, kalau laki-laki sudah mengungkapkan isi hatinya, dia selalu bertanya pada sang wanita “Apakah kau mencintaiku juga??” ucapku menggodanya.

“Bukankah sejak awal aku sudah tau kalau kau mencintaiku?” ucapnya bangga dan itu membuat wajahku memerah sekarang.

“Yaa..kau percaya diri sekali kalau aku mencintaimu??”

“Jadi kalau begitu kau tidak mencintaiku??” ucapnya cemberut.

“Haha..kau ini, ternyata kau mudah sekali tersinggung yah” aku terus menggodanya.

“Yah..Suhoon-ah, aku juga mencintaimu, sangat sangat mencintaimu, arasso??” ucapku sambil menatapnya.

“Gomawo Aina-ah..” dia memelukku.

“Ah..geundae…” dia melepaskan pelukannya.

“Geundae wae??”

“Aina-ah, ada satu hal lagi yang ingin aku ucapkan padamu” dia mulai memasang wajah sedihnya.

“Akuu…aku akan pindah ke Amerika bersama keluargaku”

“MWO???” aku menjauh darinya.

“Aina-ah, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, tapi ini sudah keputusan appa ku, kakaknya yang tertua yang sudah bertahun-tahun tinggal di Amerika, menyuruh kami untuk tinggal di sana, agar pamanku bisa membantu kehidupan kami lagi”

“Lalu kau akan tinggal selamanya di sana??” ucapku ketus.

“Molla…aku tidak tau untuk hal itu, tapi yang jelas aku janji, aku akan kembali ke sini untukmu, aku janji” dia mengenggam kedua tanganku lagi dan berusaha untuk meyakinkanku mengijinkannya pergi.

“Suhoon-ah, kau baru saja mengucapkan cinta padaku, tapi tiba-tiba kau memberiku kabar seperti ini?? Kau ingin aku melakukan apa sekarang?? Kau ingin membujukku untuk mengijinkanmu pergi?? Begitu??”

“Aina-ah, aku juga tidak tau tentang hal ini, appa baru memberitahu ku 2 hari yang lalu, dan aku baru membicarakannya padamu sekarang, karna aku ingin mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya”

“Aku tidak yakin, apa kau bisa memegang janjimu untuk kembali ke sini menemuiku”

“Anhi..Aina-ah, aku janji aku akan memegang janjiku, aku akan kembali ke sini untukmu. Dan saat aku kembali nanti, tunggulah aku di tempat ini, eoh?? Kau mau menunggu kan? Aku mohon” dia berlutut di hadapanku.

“Suhoon-ah…aku apa-apaan, ayo cepat bangun”

“Aku tidak akan bangun sebelum kau berjanji padaku akan menungguku kembali di sini”

“Ash..aku ini kekanakan sekali” aku menatapanya lekat hingga akhirnya aku mengucapkan apa yang belum aku yakini aku bisa menepatinya.

“Baiklah..baiklah, aku berjanji, aku akan menunggumu kembali, dan aku akan menunggumu di sini.”

“Jinja??” dia langsung bangun dan menatapku girang.

“Ehm..aku akan menunggumu asal kau benar-benar kembali”

“Ye..aku janji, aku janji pasti akan kembali” dia memelukku dengan erat dan aku membalas pelukannya.

End of Flashback…

Itulah ucapan terakhirnya, janjinya padaku bahwa dia akan kembali ke sini untukku, dan menyuruhku menunggu di pantai ini. Tapi 11 tahun berlalu aku selalu menunggunya kembali, namun dia tidak pernah menampakkan dirinya di sini. Setelah beberapa bulan dia pindah ke Amerika, dia masih memberiku kabar lewat e-mail, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi darinya. Aku benar-benar kehilangan kontak dengannya, dan sampai sekarang aku tidak tau lagi bagaimana keadaannya, di mana dia sebenarnya dan apa yang terjadi dengannya.

“Suhoon-ah, kau sebenarnya di mana?? Kenapa kau tidak juga kembali?? Aku sudah menepati janjiku untuk menunggumu di sini, bahkan sampai saat ini aku masih menunggumu dan akan terus menunggumu. Aku mohon kembalilah, aku merindukanmu….”

~ The End ~

Author Note : Persahabatan dan Cinta tidak di ukur dari segi usia, latar belakang, status ataupun materi. Karna sebenarnya status dan materi adalah sesuatu hal yang tidak abadi, yang suatu saat akan kembali kepada sang pemilik-Nya. Tapi ketulusan dalam sebuah persahabatan dan cinta, adalah sesuatu hal yang akan abadi, meskipun akan ada saatnya berpisah, tapi ketulusan itu masih bisa di rasakan dan di ingat untuk selamanya. Seseorang yang tulus mencintaimu adalah dia yang bukan hanya ada saat kau merasakan kebahagiaan, tapi juga tetap ada di saat kau sedang kesusahan.

5 responses to “[FF REQUEST] I’m Still Waiting…

  1. chingu,,ff nya q suka banget,,kbetulan q suka yg sedih2..
    btw gmna sich bkin foto kaya gto??
    mohoh dijawab chingu ya🙂

  2. aku suka ffnya chingu hehehhe
    feelnya ngena banget
    kebetulan aku juga ff yg bergenre sad😀
    tetep dikembangin lagi yaa ff berikutnya🙂😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s