My Beloved Girl ♥ Chapter 9 ♥


Author : r13eonnie 강 하이에나 a.k.a Pinky Girl
Rating : R / PG-15
Genre : Romance, Life, Angst, Friendship, Family
Lenght : Chaptered
Main Cast :
↔ Vania Alexandria Sentani / Lee RaeHee / Vania Lee ( OC )
↔ Lee Jeong Hoon ( HITZ )
↔ Hangeng
Support Cast :
↔ Lee Hong Ki
↔ Ghun ( X-5 )
↔ Jo Twins ( Jo Kwangmin n Jo Youngmin )
↔ Stevanny Jessica Manoach / Song Hyun Won ( OC )
↔ Anastasia Hannas / Lee ChaeRi ( OC )
↔ Jung Ilyeon ( OC )
↔ Jung Yeon Hee ( OC )
↔ Bae Eunsun ( OC )
↔ Kim Eun Ki ( OC )

and Other…

Poster by Vania_AlmightyCharisma

WARNING!!!

ada yadongnya dikiiit, buat reader di bawah umur yang tetep mau baca, di skip az yah pas yadongnya, dikiiit ko…hehehe..^.^v

“Yeeee…akhirnya kita bisa juga liburan bersama, omo….ini pertama kalinya dalam sejarah di flat kita mengadakan liburan seperti ini, paman, bibi, aku suka sekali dengan ide kalian, hihihi….” Yeon Hee memeluk paman Hwan dan bibi Gae Hwa bergantian dengan riangnya saat mereka sudah tiba di penginapan di Pulau Jeju.

“Ne,,Yeon Hee-ah, paman juga benar2 senang bisa mengadakan liburan ini bersama kalian” sahut paman Hwan tidak kalah riang.

“Oya paman, untuk kamarnya bagaimana?? Apakah kita akan di beri kamar sesuai pasangan?? Auww…chagi-ah, sakit tau” Kwangmin mengerang kesakitan saat Yeon Hee mencubit pinggangnya dengan keras.

“Chagi-ah?? Sejak kapan aku jadi pacarmu?? Awas kau kalau berani memanggilku seperti itu lagi, dasar otak mesum. Tentu saja kita akan di bagi menjadi beberapa orang, yeoja dengan yeoja, namja dengan namja, iya kan paman??”

“Ah,,kau benar Yeon Hee, paman sudah memesankan kamarnya 6, jadi paman dengan Jeong Hoon, Gege dengan Ghun, Kwangmin dengan Youngmin, Vania dengan Chaeri, kau Yeon Hee dengan eonnimu, bibi Gae Hwa dengan Hyun Won”

“Jamkkaman paman, kenapa kau tidak bersama bibi?? Bukankah kalian sudah menikah?? Wajar saja kan kalau kalian satu kamar??” tanya Vania heran.

“Anhi, Vania, meskipun paman dan bibi Gae Hwa boleh tinggal dalam satu kamar, tapi kali ini kita sedang berlibur bersama, jadi biar paman dan bibi sekali-kali tidak tidur sekamar, lagipula kami sudah sepakat”

“Ne, Vania, paman dan bibi ingin bisa lebih dekat dengan kalian lagi” sambung bibi Gae Hwa.

“Paman, kalau begitu aku tidak mau sekamar dengan eonni ku, aku bosan melihat mukanya terus, aku….aku mau tidur dengan Chaeri eonni saja, eoh??” ucap Yeon Hee memeluk Chaeri.

“Yaaakk….kau ini, memangnya siapa yang tidak muak melihatmu?? Aku juga muak tau sekamar terus denganmu, gurae, kau dengan Chaeri eonni kalau begitu aku dengan bibi Gae Hwa, kau mau kan bibi??” Ilyeon merangkul lengan bibi Gae Hwa manja.

“Ne, aku mau sekamar dengan Yeon Hee, aku juga bosan sekamar terus dengan eonni ku, huh” Chaeri mengerucutkan bibirnya dan memandang sinis pada Vania.

“Yak..yak…yak…Chaeri-ah, kau bosa hidup, huh?? Baiklah, kalau begitu aku dengan Hyun Won eonni, weee….paman mana kunci kamarku” Vania memeletkan lidah ke arah Chaeri.

“Baiklah, kalau masalah itu terserah kalian, ini kuncinya. Youngmin, Kwangmin apa kalian tidak akan bertukar pasangan juga??”

“Ne, tentu saja aku juga mau, kalau mereka juga bertukar pasangan, aku….aku mau dengan Ghun hyung. Hyung, kau mau tidur sekamar denganku, kan?? Tenang kau tidak usah takut, aku tidak akan menggodamu, ko, hahaha….” Kwangmin memeluk pundak Ghun dan Ghun hanya tersenyum simpul.

“Baiklah, kalau begitu, silahkan kalian masuk ke kamar kalian masing-masing, nanti malam kita akan mengadakan BBQ di halaman penginapan, araci??”

“Ne, ahjussi….” sahut makhluk-makhluk (?) penghuni flat itu serempak.

“Vania, bagaimana bisa kau merayu Hangeng untuk mau ke sini??” tanya Hyun Won saat dia dan Vania sudah berada di kamar mereka dan memindahkan pakaian mereka ke lemari kecil di kamar.

“Ah,,eonni-ah, kau seperti tidak tau dia saja, asal aku ancam dia pasti akan menurut kata-kata ku, hihi…” Vania merentangkan tubuhnya di kasur.

“Memangnya kau mengancam dia apa??” Hyun Won menatap Vania penasaran.

“Ah..ah..itu rahasia eonni, hehhehe..”

“Yaakk…Vania, ayo cepat katakan padaku, kau mengancam dia apa??”

“Anhi, eonni, nanti juga kau akan tau, hehe…Sudah ah aku ke kamar mandi dulu yah” Vania beranjak dan menghilang dari hadapan Hyun Won.

Drrt..drrtt…drrtt..ddrtt…

“Hp siapa yang bergetar??” Hyun Won mengambil Handphone di dalam tasnya, namun saat dia melihat Handphonenya, tidak ada panggilan atau pesan masuk di layarnya.

Ddrrtt…dddrrtt..ddrrtt..ddddrrttt..

Hyun Won menyadari kalau getaran itu bukan dari Handphonenya, dia mencari sumber dari suara getaran itu, sampai dia menemukan Handphone Vania yang tertutup selimut di atas kasur.

“Vania??? Handphone mu bergetar terus, ada telfon masuk nih. Vania???” Hyun Won berteriak memanggil Vania, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi dan seiring dengan getaran di Handphone Vania pun berhenti bergetar.

Drrrrtt…ddrrtt…

Handphone itu berbunyi lagi, namun bukan tanda panggilan masuk, tapi tanda pesan masuk. Hyun Won mengambilnya dan melihat kira-kira siapa yang mengirim pesan, takut penting. Namun karna Handphone Vania Sensitive Touch Screen, jadi Hyun Won tidak sengaja menyentuh layarnya dan pesan itu pun terbuka.

“Vania…apa kabarmu??? Aku sangat merindukanmu, apakah sekarang kau baik2 saja di Korea?? Aku harap begitu…Vania tunggu lah aku, secepatnya aku akan pulang untuk menemuimu….bogoshipta….”

“Astaga, siapa yang mengirim SMS ini?? Apakah Vania sebenarnya sudah mempunyai pacar?? Anhi..anhi,,itu tidak mungkin. Mungkin saja orang ini masa lalunya Vania, aaiisshhh..Hyun Won, lagipula kau ini bodoh sekali kenapa bisa kau membuka dan membaca pesan orang?? babo. babo..” Hyun Won memukul-mukul keningnya sendiri.

“Eonni-ah, waegurae??? Kenapa kau memukul keningmu?? Ada nyamuk yah?? Eodi??” Vania mengusap wajahnya dengan handuk kecil sambil menghampiri Hyun Won.

“Ah, Vania, ehmm..chogi…” Hyun Won terperanjat saat melihat Vania yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.

“Eonni-ah, waeyo?? Kenapa sekarang kau terlihat gugup???”

“Igo….Mianhae Vania, tadi aku tidak sengaja membuka pesanmu, tadi ada telfon masuk, aku memanggilmu tapi kau tidak menjawabnya, lalu saat ada pesan masuk tadinya aku hanya ingin melihat dari siapa aku takut itu pesan penting, tidak taunya aku tidak sengaja menyentuh layar Hp mu dan aku membaca pesannya, Vania kalau kau marah kau boleh memarahiku karna aku sudah tidak sopan membaca pesanmu, mianhae Vania, mianhae….” Hyun Won menyerahkan handphone Vania pada sang empunya nya sambil membungkuk berkali-kali meminta maaf pada Vania.

“Eonni-ah, sudahlah jangan merasa bersalah seperti itu, gwaenchana, lagipula aku tidak keberatan kau membaca pesanku, tidak ada hal yang begitu penting, ko”

“Hajiman….SMS tadi…”

“Wae??” sebelum Vania mendengar penjelasan dari Hyun Won, dia langsung membaca sendiri pesannya.

BRUK…

Setelah selesai membaca pesan itu, Vania tidak sengaja menjatuhkan Handphonenya sendiri karna keseimbangan tangannya yang tiba-tiba hilang. Vania tidak berkata apa-apa, dia hanya terpaku dengan tatapannya yang kosong dan matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Vania, waegurae???? Gwaenchana???”

“…..”

Vania tidak menjawab, Hyun Won mengambil handphone Vania yang terjatuh.

“Vania, mianhaeyo, tapi jika aku boleh tau, itu..pesan dari siapa???” tanya Hyun Won hati-hati.

“Eonni-ah…” ucap Vania pelan.

“Ne….??”

“Boleh aku meminta tolong padamu??”

“Tentu saja, mwo??”

“Aku mohon jangan bilang pada siapapun tentang hal ini, termasuk Gege dan Jeong Hoon, eoh??” Vania melirik Hyun Won pelan tanpa berkedip dan sedikit-sedikit air mata Vania mulai menetes.

“Vania….”

“Jebal….” lirih Vania.

“Baiklah, aku janji, aku tidak akan bicara pada siapapun” Hyun Won memeluk Vania hangat.

“Gomawoyo eonni”

***

“Hyun Won-ah..” sapa Hangeng yang sedang berjalan di koridor penginapan dengan Jeong Hoon.

“Ah,,Hangeng-ah…” sahut Hyun Won menoleh ke arah Hangeng dan Jeong Hoon.

“Kau mau ke mana??” tanya Hangeng sambil berlari kecil mendekati Hyun Won.

“Oh,,aku mau ke pantai ingin menghirup udara segar”

“Jinja?? Kalau begitu, boleh aku ikut??”

“Ne..??” tanya Hyun Won melirik Jeong Hoon.

“Kalian pergi saja, aku mau ke kamar menemui Vania, Hyun Won-ah, Vania ada di kamarnya, kan??”

“Ye…?? Ah..ehmm….ne, dia di kamarnya” sahut Hyun Won gugup.

“Baiklah, Hoon-ah, aku ke pantai dulu yah. Hyun Won-ah, kajja..” Hangeng menggenggam tangan Hyun Won dan meninggalkan Jeong Hoon.

Setelah 2 insan tadi meninggalkannya, Jeong Hoon melangkah masuk ke kamar Vania.

Tok..tok..tok…

“Sayang, apa kau di dalam??” sahut Jeong Hoon mengetuk daun pintu kamar Vania.

“Ne..sayang, masuklah” jawab Vania cerah.

“Sayang, mwo haseyo?? Kenapa kau tidak ikut Hyun Won ke pantai dan malah berdiam diri di sini??”

“Ah,,anhi, aku sedang ingin di sini. Oya bagaimana kau tau Hyun Won eonni mau ke pantai??”

“Tadi aku bertemu dengannya di depan kamarmu”

“Oh…”

“Sayang, aku rindu sekali ingin memelukmu” Jeong Hoon naik ke atas kasur, memeluk Vania yang sedang menyender di kepala kasur dan merentangkan kakinya.

“Sayang..lepaskan, bagaimana kalau ada yang tiba-tiba masuk dan melihat kita?” Vania berusaha melepaskan tangan Jeong Hoon yang melingkar di pinggangnya, namun Jeong Hoon seolah enggan untuk melepaskanna malah mengeratkan pelukannya itu.

“Kalau begitu aku kunci pintunya yah???” goda Jeong Hoon melirik Vania.

“Yaakk..sejak kapan otakmu jadi mesum seperti itu, huh??”

“Haha…sejak kau selalu membuatku merindukanmu, hehe…”

“Ciih,,nappeun namja…” Vania membentikkan jarinya ke kening Jeong Hoon pelan.

“Sayang, apa kau mencintaiku??” tanya Vania tiba-tiba sambil mengusap-ngusap rambut Jeong Hoon yang posisi kepalanya sekarang ada di pangkuan Vania dan kedua tangannya masih melingkar di pinggang Vania.

“Ehmm,tentu saja aku mencintaimu, wae?? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu??”

“Anhi…aku hanya bertanya saja. Jamkkaman sayang, apa ini, kenapa di rambutmu ada kutu??? Iiihh,,kau jorok sekali sih, aaahhh..aku jadi ilfeel” Vania menepuk-nepuk tangannya kegelian.

“Yaaakk?? Mana?? Mana? Aah..kau pasti bohong, mana mungkin aku ada kutunya??? Enak saja kau bicara?” Jeong Hoon memegangi rambutnya dengan panik.

“Hahaha….satu monyet telah tertipu, padahal bohong, hihihihi..” Vania tertawa puas saat melihat wajah Jeong Hoon yang sangat panik tadi.

“Yaaakkk..kau?? Ahh..kau mau bermain-main denganku yah?? Baik, sini kau biar aku balas” Jeong Hoon mengejar-ngejar Vania yang berlarian mengelilingi seluruh sudut kamar dan sekali-kali meloncat ke kasur dan turun lagi.

Meskipun begitu akhirnya Jeong Hoon berhasil menangkap Vania, karna ukuran kamar itu yang memang tidak seluas kamar di flatnya.

“I catch you, honey….” Jeong Hoon menarik tangan Vania dan menjatuhkan tubuh gadisnya itu ke kasur, terdengar nafas Vania yang terengah-engah sambil meronta-ronta.

“Lepaskan aku, sayang….”

Never…Kau sudah masuk dalam perangkapku, maka selamanya kau tidak akan pernah bisa pergi dariku, arasso??” Jeong Hoon mengeratkan pelukannya.

Jeong Hoon bisa mendengar deru nafas Vania yang masih sedikit terengah-engah dan mulai menghentikan aksinya untuk meronta. Entah kenapa saat dia melonggarkan pelukannya dan menatap Vania, tatapannya beradu dengan mata Vania, dan saat itulah entah siapa yang memulai, mereka sudah tenggelam dalam kenikmatan dunia dan saling mencurahakn rasa cinta mereka dalam sebuah ciuman yang lembut dan sepertinya-cukup-lama.

***

“Eonni-ah…” Chaeri melambai pada Hyun Won yang berjalan menuju pantai bersama Hangeng dan Hangeng membalasnya di ikuti seulas senyuman manis.

Ternyata bukan hanya Hangeng dan Hyun Won yang punya pemikiran ingin menikmati udara-segar Pulai Jeju di sore hari itu, tapi pasangan Chaeri-Youngmin, Ilyeon-Ghun, bibi Gae Hwa-paman Hwan dan Kwangmin-Yeon Hee juga sudah menclok (?) di sana. Yah, meskipun mereka baru tiba 2 jam yang lalu di Pulau ini, tapi rasanya tidak membuat mereka merasa lelah bahkan ingin cepat-cepat merasakan deru angin dan ombak dari pantai yang terkenal indah di Korea itu.

“Eonni-ah, mana eonni-ku??” tanya Chaeri sambil melihat ke belakang punggung Hyun Won dan Hangeng, namun dia tidak melihat kakaknya itu mengekori mereka.

“Ah,,eonni-mu tadi sedang ingin di kamarnya, padahal sudah aku ajak”

“Oh…” Chaeri hanya ber~Oh~ ria sedangkan tidak dengan paman Hwan yang sepertinya menangkap sesuatu yang aneh.

“Hangeng, lalu Jeong Hoon mana??” akhirnya pertanyaan paman Hwan itu membuat semua orang yang ada di sana pun menyadari kalau ternyata hanya pasangan Vania dan Jeong Hoon yang tidak ada di sana.

“Oh,,tadi Jeong Hoon ingin menemui Vania di kamarnya” sahut Hangeng singkat.

“Omo,,oppa, kenapa kalian membiarkan eonni-ku berduaan dengan Hoon oppa di kamarnya?? Omo..omo..jangan-jangan mereka sedang berbuat mesum lagi”

“Hush,,,kau tidak boleh berfikiran buruk seperti itu pada eonni-mu sendiri, lagipula kalau pun ia itu hak mereka, toh mereka sudah besar, mereka sudah tau mana yang harus mereka lakukan dan mana yang tidak boleh mereka lakukan” ucap Hyun Won bijak.

“Ne, Hyun Won benar. Aku sudah mengenal Rae Hee belasan tahun, aku tau sekali sifatnya seperti apa dan meskipun aku mengenal Jeong Hoon baru 1 tahun belakangan ini, tapi aku percaya dia tidak akan berani melakukan hal yang tidak-tidak pada Vania” sambung Hangeng.

“Ah,,kalian berdua benar juga, tidak seharusnya aku berpikiran buruk pada eonni-ku sendiri, padahal aku adiknya jadi aku jelas tau dia itu seperti apa, lagipula Jeong Hoon oppa tidak akan berhasil melakukan ‘itu’ dengan eonni-ku sebelum mereka menikah, yang ada Jeong Hoon oppa akan mati di tangan eonni-ku, hihihi….” Chaeri terkekeh dan Youngmin menyikutnya pelan.

“Hehe…maaf sayang, aku hanya bercanda” Chaeri mendongak ke Youngmin dan tersenyum lebar.

Akhirnya sore itu mereka menikmati keindahan Pulau Jeju dengan keriangan yang terpancar dari wajah mereka masing-masing, seperti melepaskan beban yang selama ini hinggap di pundak mereka dan seolah enggan untuk pergi dari hidup mereka. Masing-masing dari mereka ada yang melakukan foto-foto dengan pasangannya, ada yang membuat nama mereka di atas pasir, ada yang berlarian di tepi pantai dan saling menyipratkan air ke arah pasangan mereka dan ada juga yang saling kejar-kejaran dan saat tertangkap, pasangan mereka akan di peluk dan di putar-putar (?).

“Hah,,aku lelah. Sayang, ayo duduk dulu di sini sebentar” Youngmin menghempaskan tubuhnya untuk duduk di tepi pantai dan menarik tangan Chaeri untuk duduk di sampingnya.

Chaeri menurut dengan nafas yang terengah-engah karna sudah berlarian di kejar-kejar Youngmin.

“Chagi, mana aku lihat hasil foto-foto tadi???” Ghun menengok ke arah kamera digital yang di genggam Ilyeon sambil meneguk minuman kalengnya yang di bawa tadi sebelum pergi ke pantai.

“Ah,,ne. Igo…” Ilyeon memencet tombol next berkal-kali sambil melihat hasil-hasil foto yang di ambilnya tadi yang tersimpan di memory kameranya.

“Ah,,yang ini aku nya jelek, aku hapus saja” Ilyeon merutuk dan memencet kesal tombol erase di kameranya, namun belum ia berhasil melakukannya, kamera itu sudah berhasil pindah ke tangan Ghun.

“Di mataku kau akan selalu terlihat cantik, jadi tidak perlu kau hapus, ara???” Ghun tersenyum lebar lalu melanjutkan melihat hasil foto-fotonya.

“Ahahaha…foto yang ini bagus sekali, paman lihat ini” Ghun menyodorkan kamera di tangannya pada paman Hwan.

“Apa???”

“Omooo..yobo, kita terlihat serasi sekali di foto ini, rasanya kita seperti kembali ke masa-masa muda kita dulu. Aigoo..aku jadi ingin menangis” bibi Gae Hwae menyentuh pipinya karna terharu.

“Chagi-ah, jangan menangis. Ne, aku juga rindu sekali ingin kembali ke masa-masa dulu kita masih pacaran dan melihat foto itu rasanya rasa rinduku sudah bisa terobati” sahut paman Hwan ikut terharu sambil terus memandang foto dirinya dan istrinya yang di ambil Ghun dalam sudut yang seolah tidak sengaja di ambil namun menjadi terlihat natural, tampak keceriaan paman dan bibi Gae Hwa yang saling berkejaran di tepi pantai sambil menyipratkan air satu sama lain, dan tawa bahagia mereka yang seolah mereka tidak pernah-merasakan-kesedihan-sedikitpun.

“Oya sudah mulai petang nih, kita kembali ke kamar, yuk. Bukankah nanti malam kita akan mengadakan BBQ?? Sebenarnya sih aku masih mau di sini melihat SunSet, tapi aku ingin segera mandi, biar nanti malam sudah segar lagi” Yeon Hee mengambil sendalnya yang tadi dia lepas.

“Ye, Yeon Hee benar, meskipun sangat di sayangkan jika kita harus melewatkan SunSet, tapi kita harus siap-siap untuk nanti malam, ayo kalau begitu kita kembali ke penginapan” ajak paman Hwan

“Kalian duluan saja, aku dan Hyun Won masih ingin di sini, ingin melihat SunSet, benarkan Hyun Won??” Hangeng melihat ke arah Hyun Won, berharap gadis itu bisa menangkap arti dari tatapannya.

“Ne…?? Ah, ye…Hangeng benar, aku ingin melihat SunSet” sahut Hyun Won gugup karna dia tidak tau apa yang sebenarnya ingin Hangeng lakukan, meskipun begitu ia tetap menuruti.

“baiklah kalau begitu, kami duluan yah. Oya setelah melihat SunSet, cepat kembali ke penginapan, siap-siap untuk nanti malam, arasso??” ucap paman Hwan mendaratkan tangannya di pundak Hangeng.

“Ne, ahjussi…” balas Hangeng.

Akhirnya setelah ke empat pasangan itu menghilang dari pandangan Hangeng dan Hyun Won, Hangeng melangkah ke dekat pantai.

“Hangeng-ah sebenarnya apa yang ingin kau lakukan sehingga berbohong pada mereka??” tanya Hyun Won mengangkat alisnya.

“Berbohong soal apa??” jawab Hangeng tanpa menoleh dan membiarkan kedua kakinya itu di sentuh oleh air pantai yang menepi sesaat lalu kembali ke tempatnya.

“Kapan aku bilang mau melihat SunSet denganmu??” tanya Hyun Won lagi masih tidak melepaskan tatapannya dan menunggu jawaban dari pria yang ada di hadapannya itu.

“Hyun Won-ah” bukan menjawab pertanyaan Hyun Won, Hangeng malah berbalik dan menatap Hyun Won lekat dengan suaranya yang di buat selembut mungkin.

Deg….

Sontak Hyun Won merasakan degup jantungnya saat ini dua kali lebih cepat, bukan bahkan lebih cepat lagi dari itu saat Hangeng yang tiba-tiba menatapnya seperti itu.

“Hyun Won-ah…sebenarnya aku masih menunggu jawabanmu atas lamaranku saat itu, tapi kali ini aku tidak akan menanyakannya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu” ucap Hangeng setenang mungkin.

“Terima kasih untuk apa??” Hyun Won mengangkat alisnya lagi.

“Untuk waktumu yang sudah rela menungguku selama bertahun-tahun untuk aku bisa membalas cintamu” mata Hangeng tidak berkedip, masih terfokus memandang lebih dalam kedua bola mata gadis di hadapannya itu dan menunggu sampai gadis itu mengucapkan sesuatu.

“Hangeng-ah” hanya itu yang terucap dari bibir tipis Hyun Won yang mulai bergetar karna menahan rasa haru, matanya mulai meneteskan bulir-bulir bening dari tempat kediamannya (?).

“Jangan pernah menangis lagi di hadapanku, karna mulai saat ini aku ingin membayar semua rasa sakitmu, rasa kecewamu, waktumu dan juga air matamu yang pernah mengalir karna aku, akan aku ganti dengan tawa kebahagiaan yang terulas dari bibirmu di setiap detik dalam hidupmu dan untuk seumur hidupmu”

“Hangeng-ah, apakah sekarang aku boleh mengatakan sesuatu??” sahut Hyun Won agak berbisik karna kata-kata Hangeng beberapa detik lalu itu membuatnya seakan sulit untuk bernafas dan membuat tubuhnya seolah terpaku di tempatnya sendiri.

“Katakanlah…” jawab Hangeng lembut.

“Sepertinya aku tidak membutuhkan waktu lagi untuk menjawab pertanyaanmu malam itu karna sekarang aku sudah mempunyai jawabannya” Hyun Won meraih tangan Hangeng yang seolah terasa hangat padahal cuaca sore itu cukup dingin, apalagi mereka sedang berada di pantai yang meniupkan angin yang cukup kencang dan dingin-menusuk-tulang.

“Tidak ada alasan bagiku untuk menolak lamaran orang yang sudah berjanji untuk selalu membuatku bahagia untuk seumur hidupku” Hyun Won mengulas senyuman tipis dari bibirnya, namun senyuman itu berhasil membuat Hangeng tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk gadis yang ada di hadapannya itu.

“Gomawo Hyunwon-ah, gomawoyo….Aku janji akan menepati janjiku, saranghae Hyun won-ah, nomu saranghae” Hangeng mengeratkan pelukannya, memberikan kehangatan pada gadis yang selama ini setia mencintainya dan mampu merebut hatinya.

“Cheonmaneyo Hangeng-ah and nado saranghae…youngwonhi” HyunWon membalas pelukan hangat Haneng.

Dan tepat di saat itulah, sang surya sedikit demi sedikit menenggelamkan wajahnya untuk kemudian kembali ke singgasananya. Yang sekaligus menjadi saksi atas bersatunya cinta dari kedua insan yang sedang berbahagia itu.

“Hangeng-ah”

“Ehmm..”

“Maukah kau untuk selalu membawaku ke tempat-tempat indah seperti ini terus nanti???” ucap Hyun Won sambil mendongak sesaat ke arah Hangeng yang posisi mereka kini duduk di tepi pantai berdampingan dan Hyun Won memeluk pinggang Hangeng.

“Tentu, bahkan aku akan membawamu ke manapun yang kau mau”Hangeng mencium puncak kepala Hyun Won dengan lembut.

“Gomawo Hangeng-ah, untuk kebahagiaan ini…” Hyun Won mengeratkan pelukannya, memejamkan matanya dan menyugingkan senyuman bahagianya.

***

“Woooowww…baunya sudah ke cium sampai ke kamarku, hmm….jadi tidak sabar ingin cepat-cepat makan, nyam..nyam…” Vania menuju halaman bersama Hyun Won sambil merangkul gadis yang lebih tua darinya itu.

“Huh,,kau ke mana saja baru datang, bukannya bantu-bantu, dasar eonni kau memalukan” cibir Chaeri sambil membalikkan daging panggang yang ada di alat pemanggang.

“Aku menunggu Hyun Won eonni tau, kalau kau mau marah, coba marah saja padanya, weeee…” Vania memeletkan lidahnya pada adiknya satu-satunya itu.

“Sini, apa ada yang bisa ku bantu??” tanya Vania antusias melepaskan rangkulannya.

“Sudah mau selesai tau, sudah sana kau duduk saja, jangan menggangguku” Chaeri menepis kasar tangan Vania.

“Cih…ya sudah kalau begitu, huh. Sayang, kau sedang apa??” Vania sekarang merangkul pundak Jeong Hoon dan duduk di sebelahnya.

“Kau tidak melihat aku sedang memegang gitar???” jawab Jeong Hoon sambil memetik senar gitar itu dan melantunkan nada yang merdu.

“Isshh…aku tau kau sedang memegang gitar. Oya coba kau mainkan satu lagu untukkku” pinta Vania semangat.

“Baiklah, kau mau lagu apa??”

“Terserah kau saja” Vania mulai memandangi namjachingunya itu dengan serius, kira-kira lagu apa yang akan di nyanyikannya, berharap Jeong Hoon akan menyanyikan lagu romantis untuk Vania di depan orang-orang saat ini..

“Baik, dengarkan baik-baik yah. Ehem..ehem..” Jeong Hoon berdeham sebentar dan mulai memegang lagi senar gitarnya dengan serius.

“Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, merah kuning kelabu, merah muda dan biru, meletus balon hijau….” Jeong Hoon menyanyikan lagu itu dengan suara yang sangat-tidak-enak-didengar-telinga.

“Yak..yak…yak..stop it..stop it…Kenapa kau malah menyanyikan lagu kanak-kanak seperti itu?? Memang kau pikir ini taman kanak-kanak???” Vania menahan tangan Jeong Hoon dengan cepat yang masih menempel pada senar gitarnya supaya dia tidak meneruskan lagu bodohnya itu.

“Wkwkwkwkwk..bagus hyung, aku tidak menyangka kalau suaramu benar-benar ‘BAGUS’, hahahahaha….” Kwangmin memegang perutnya yang tida bisa menahan tawa.

“Sayang, bukankah kau tadi bilang terserah aku?? Ya sudah aku nyanyikan lagu itu, kenapa kau protes??” tanya Jeong Hoon polos sambil menepisakn tangan Vania.

“Iya, tapi kau tidak harus menyanyikan lagu yang bisa memekik telinga itu kan?? Jangan lagu itu, ganti. Jamkkaman lagu apa yah??” Vania menopang dagu dan menjentikan jarinya di dagu lancipnya itu.

“Lagunya Ayu Ting Ting hyung alamat palsu…..” sahut Youngmin polos dan langsung di sambar dengan cubitan kecil di pinggangnya oleh Chaeri.

“Benar hyung alamat palsu” sambung Ghun.

“Andwae,,,andwae…dasar pria-pria bodoh, jangan lagu itu. Eonni lagu apa dong??” Vania melirik Hyun Won yang sedang duduk di samping Hangeng.

“Bagaimana kalau Terima Kasih Cinta, lagunya Afgan??”

“Ah,,benar…Sayang ayo cepat nyanyikan lagu itu” tanya Vania langsung berbalik lagi pada Jeong Hoon dengan semangat.

“Ah..jangan lagu yang melow-melow dong, kita di sini kan mau bersenang-senang, masa nyanyiin lagu yang melow-melow gitu sih??” protes Kwangmin.

Akhirnya setelah menempuh (?) perdebatan panjang antara kubu yeoja dan kubu pria, kubu wanita mau tidak mau harus rela mengalah pada couple nya itu menyanyikan lagu dangdut sepanjang malam sambil menyantap BBQ mereka.

***

“Eonni, kau kenapa senyum-senyum sendiri setelah membaca SMS di ponselmu??” tanya Vania pada Hyun Won saat pesta BBQ mereka usai dan kembali ke kamar masing-masing.

“Ne..?? Ah,,anhi, hehe..”

“Coba ku lihat, dari siapa sih sampai membuatmu tersenyum bahagia seperti itu??” Vania menghampiri Hyun Won yang sedang duduk di kasur.

“Andwae…” Hyun Won menyembunyikan ponselnya di belakang punggungnya.

“Ah,,jadi eonni mau rasahasi-rahasian saa aku?? Baiklah, kalau begitu…” ucap Vania sambil lalu.

“Yak, jamkkaman..” Hyun Won memekik memanggil Vania.

“Baiklah aku akan cerita….” Vania menghampiri Hyun Won lagi berbaring di kasur dan menopangkan dagunya.

“Tadi saat SunSet….Aku sudah menjawab lamaran Hangeng malam itu” ucap Hyun Won agak tersipu.

“Choengmal??? Lalu eonni menjawab apa??”

“Tentu saja aku menjawab iya anak bodoh, makannya sekarang aku bisa senyum-senyum sendiri mendapat pesan darinya” Hyun Won mengacak-ngacak rambut Vania.

“Ah,,jadi yang mengirim pesan itu Gege?? Hmm..pantas kau senyum-senyum sendiri seeprti itu. HUaaa…eonni chukkae, akhirnya penantianmu selama bertahun-tahun ini terbalaskan dengan senyum kebahagiaanmu itu” VAnia memeluk Hyun Won riang.

“Ehm…Vania, dan aku rasanya ingin menangis saking bahagianya” Hyun Won terisak.

“Anhi eonni, kau tidak boleh menangis lagi mulai sekarang, karna aku percaya Gege pasti sanggup membuatmu bahagia, karna aku kenal siapa Gege”

“Ehmmmm…dia juga bilang begitu, dia tidak ingin melihatku menangis lagi”

“Kalau begitu, biar ku hapus air matamu, karna kau lebih cantik jika tersenyum seperti tadi, hehe..” Vanai menyeka air mata di kedua pipi Hyun Won dan mereka berpelukan lagi.

——————————

“Rae Hee-ah, kau sedang apa??” tanya Hangeng saat melihat Vania duduk di halaman penginapan sendirian tengah malam.

“Ah,,,Gege….” Vania menoleh dan tersentak melihat kehadiran Hangeng.

“Apa ada yang sedang kau pikirkan??” Hangeng menagmbil tempat duduk di sebelah Vania.

“Ah,,,anhio, aku hanya ingin mencari udara segar saja, aku tidak bisa tidur” Vania berusaha berbicara setenang mungkin.

“Benarkah??” tanya Hangeng curiga.

“Gege….”

“Ehm…??”

“Seandainya kau punya rahasia di masa lalumu, apa kau akan menceritakannya pada pasanganmu??”

“Kenapa kau bertanya begitu??”

“Yaakk,,aku hanya bertanya, kau cukup menjawab saja tidak usah menatap menuduh seperti itu??”

“Rae Hee-ah, bicaralah padaku, apa sudah terjadi sesuatu??”

Vania menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia menceritakan sesuatu pada Hangeng yang membuat pria itu cukup tercengang.

Keesokan harinya….

“Hei..hei..kalian ayo bangun,,,kita kan sudha berencana akan jogging pagi ini” paman Hwan mengetuk pintu para penghuni flat satu per satu .

“Ne,,paman aku sudah bangun dan sudah siap ko, tuh si Kwangmin masih belom kelar juga nyisirnya” Ghun mebuka pintu dan keluar dari kamar.

“Kwangmin ayo cepat, kau mau menyisir rambutmu berulang kali pun kau tidak akan pernah bisa berubah menjadi Jo Kwangmin salah satu member Boyfriend itu ko”

“Aiissshh,,paman ini bagaimana sih?? Paman tidak lihat yah kalau mukaku ini sangat mirip dengannya paman, hu…” Kwangmin menyisirkan rambutnya untuk terakhir sampai dia akhirnya keluar juga dari kamarnya.

“Yang lain belum di bangunkam paman??” tanya Ghun.

“Belum, kau bantu aku bangunkan mereka yah” pinta paman Hwan.

“Biar aku yang mengetuk pintu kamar Yeon Hee” sahut Kwangmin antusias.

“Tidak perlu..aku sudah di belakangmu sekarang” ucap Yeon Hee datar.

“Aah,,chagia..tadinya aku sudah membayangkan bisa mengetuk pintu kamarmu dan kau yang membukanya lalu memberikanku morning kiss, hihi..”

BUG….

“Itu tinju pertamaku yang menyentuh wajahmu, lain kali kalau berani bicara sepert itu lagi, bukan hanya wajahmu yang akan kena sentuh tinjuku, tapi juga ‘barangmu’, arasso???” bentak Yeon Hee menepuk-nepuk kedua lengannya.

“Aiissshh,,dia ini wanita atau apa sih?? Tenaganya kuat sekali” Kwangmin di bantu berdiri oleh Ghun dan paman Hwan.

Setelah semuanya berkumpul, mereka pun mulai berlari untuk jogging pagi ini, mengelilingi sekitar daerah Jeju setelah itu kembali ke penginapan. Setelah jogging selama dua jam, mereka pun merebahkan diri di halaman.

“Haahh…..benar-benar lelah sekali, tapi rasanya jadi segar” Youngmin menyeka keringat di keningnya.

“Yah,,benar, hah..baru kali ini lagi aku bisa jogging sejauh ini, huft..” sahut Ghun dengan nafasnya yang masih terengah-engah.

“Sayang kau mau ke mana??” tanya Jeong Hoon pada Vania yang tiba-tiba berdiri.

“Aku mau ke toilet dulu sebentar…” sahut Vania sambil berlalu.

Ddrrtt..dddrrttt…

Sete;ah keluar dari toilet, Vania mengambil ponsel dari saku celana trainingnya. Satu pesan baru dari nomor yang tidak di kenal, nomor yang kemarin mengirim pesan juga padanya saat hyun Won tidak sengaja membacanya. Vania tercengang setelah membaca isi dari pesan itu namun tiba-tiba lamunannya di buyarkan oleh suara seseorang yang tiba-tiba datang di belakangnya.

“Sayang kenapa kau masih di sini?? Kau sudah ke toiletnya??” ternyata itu Jeong Hoon, spontan Vania pun tersentak kaget melihat kehadiran Jeong Hoon dan dia langsung memasukkan lagi ponselnya dengan cepat ke dalam saku celananya.

“Sayang, SMS dari siapa sampai membuatmu terkejut begitu saat melihatku??” tanay Jeong Hoon menyelidik.

Mulut Vania terkatup, tubuhnya terasa menegang, keringat dingin terasa menyengat seluruh tubuhnya, apa yang harus dia jawab atas pertanyaan Jeong Hoon barusan.

“Jeong Hoon-ah, apakah memang seharusnya aku mengatakan hal ini padamu??” gumam Vania dalam hatinya.

Apa yang sebenarnya di sembunyikan Vania dari Jeong Hoon?? Dan siapa sebenarnya seseorang yang 2 hari itu mengirim pesan pada Vania sampai membuat Vania merasa bersalah pada Jeong Hoon?? Temukan jawabannya di My Beloved Girl Part 10…^^

~ TBC ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s